Produksi Padi Madiun 2025 Turun Drastis, BPS Ungkap Penyebab dan Upaya Pemkot
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Madiun 2025 turun signifikan. Penurunan ini dipicu alih fungsi lahan, meski Pemkot terus berupaya menjaga ketahanan pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun melaporkan adanya penurunan produksi padi yang signifikan pada tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa produksi padi di Kota Madiun, Jawa Timur, diproyeksikan hanya mencapai 11.069 ton gabah kering giling (GKG). Angka ini setara dengan 6.392 ton beras, menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai.
Penurunan ini menjadi perhatian serius mengingat produksi pada tahun 2024 tercatat mencapai 12.610 ton GKG, atau setara dengan 7.282 ton beras. Kepala BPS Kota Madiun, Abdul Azis, menyampaikan informasi ini pada Minggu (14/12). Ia menekankan bahwa proyeksi penurunan ini cukup besar.
Secara persentase, produksi padi pada 2025 tercatat mengalami penurunan sebanyak 1.541 ton GKG. Angka ini merepresentasikan penurunan sebesar 12,22 persen dibandingkan dengan produksi tahun 2024. Situasi ini menuntut langkah strategis dari pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas pangan.
Penyebab Penurunan Produksi Padi di Kota Madiun
Abdul Azis menjelaskan bahwa penurunan produksi padi atau beras tersebut disebabkan oleh beberapa faktor utama. Salah satu penyebab paling dominan adalah berkurangnya luas area panen. Kondisi ini secara langsung memengaruhi volume panen yang dapat dihasilkan oleh petani.
Faktor lain yang turut berkontribusi terhadap penyusutan lahan pertanian adalah alih fungsi lahan. Banyak lahan produktif yang sebelumnya digunakan untuk pertanian kini beralih fungsi menjadi area non-pertanian. "Produksi padi 2025 tersebut tercatat mengalami penurunan sebanyak 1.541 ton GKG atau 12,22 persen dibandingkan 2024," ujar Abdul Azis.
Data BPS menunjukkan bahwa luas panen padi pada 2025 di Kota Madiun diperkirakan hanya sekitar 1.974 hektare. Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 216 hektare atau 9,88 persen. Pada tahun 2024, luas panen padi masih tercatat sebesar 2.190 hektare, sehingga penurunan ini menjadi indikator penting.
Upaya Pemkot Madiun Jaga Ketahanan Pangan
Menyikapi penurunan produksi padi yang terjadi, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun terus berupaya mengoptimalkan produktivitas. Kepala DKPP Kota Madiun, Totok Sugiarto, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung program nasional ketahanan pangan. Upaya ini dilakukan meskipun lahan pertanian di Kota Madiun terbatas.
Berbagai inisiatif telah diluncurkan oleh Pemerintah Kota Madiun untuk mendorong produktivitas petani. Salah satunya adalah penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern, seperti mesin combine harvester. Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan hasil panen secara signifikan.
Selain itu, Pemkot Madiun juga memberikan bantuan pupuk tambahan kepada kelompok tani. Bantuan ini dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melengkapi pupuk subsidi yang sudah ada dari pemerintah pusat. Berbagai pelatihan juga rutin diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengelola lahan.
Inovasi lain yang diperkenalkan adalah program Sekolah Lapangan Pertanian dan Perikanan Berkelanjutan atau "Selapanan". Program ini melibatkan petani, peternak, mahasiswa, hingga santri. Mereka diberikan kesempatan untuk belajar serta mengasah keterampilan pertanian dan perikanan. Tujuannya adalah meningkatkan produktivitas panen, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Peserta Selapanan juga dibekali praktik di lapangan, didampingi praktisi, meliputi pengendalian hama padi, budi daya bawang merah, hingga teknologi bioflok di sektor perikanan.
Sumber: AntaraNews