Pelemahan IHSG Disebut Pengamat Bukan soal Pernyataan Presiden Prabowo
Sentimen itu justru lantaran adanya tekanan foreign outflow, dampak rebalancing MSCI, serta ketidakpastian geopolitik global.
Pelemahan IHSG turun 2 persen hari ini, tidak serta merta dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait nilai tukar rupiah.
Namun, menurut Analis Pasar Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, hal itu juga dipicu berbagai sentimen.
Sentimen itu seperti tekanan foreign outflow, dampak rebalancing MSCI, serta ketidakpastian geopolitik global menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI).
Oleh sebab itu, ia menilai pasar saat ini masih berada dalam fase defensif. Berdasarkan catatannya, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual dengan net foreign sell harian mencapai Rp 1,35 triliun, sementara secara year to date telah mencapai Rp 49,28 triliun. Sepanjang 2026, IHSG juga telah terkoreksi hingga 22,25 persen.
Market, kata dia, disebut cenderung merespons negatif karena pertemuan Amerika Serikat dan Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan jalur Selat Hormuz.
"Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS–Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz," kata Nafan dikutip Liputan6.com, Senin (18/5/2026).
Apalagi ditambah ancaman Trump yang siap meningkatkan intensitas militer jika Teheran tidak melunak sehingga hal ini menandakan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh.
MSCI dan Rupiah
Dari sisi domestik, pasar juga masih mencerna dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks MSCI Global Standard maupun Small Cap Index pasca pengumuman MSCI pekan lalu.
Meski intensitas foreign outflow diperkirakan mulai menurun dibanding fase awal kepanikan, tekanan jual asing dinilai masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Nilai tukar rupiah yang masih tertahan di level Rp 17.597 per USD turut menjadi faktor utama yang menekan volatilitas indeks. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati sambil menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas mata uang.
"Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per USD tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks," ujarnya.
Secara teknikal, Nafan menilai IHSG masih berada dalam kondisi oversold. Indikator RSI menunjukkan peluang indeks menguji area “wave 5/A”, sementara indikator stochastic K_D masih memberikan sinyal negatif dengan volume perdagangan yang mengalami penurunan.
Sektor yang Perlu Dicermati
Selain sektor defensif, saham-saham yang telah mengalami koreksi dalam namun memiliki valuasi murah juga mulai menarik untuk dicermati.
Investor dinilai mulai memburu saham yang berpotensi mengalami technical rebound setelah tekanan jual asing mulai mereda.
Nafan juga menyarankan investor fokus terhadap saham yang mulai menunjukkan arah pembalikan tren. Hal tersebut penting mengingat kondisi oversold pada IHSG dapat membuka peluang penguatan jangka pendek apabila sentimen eksternal mulai membaik.
Sementara itu, sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan.
Emiten dengan eksposur utang dolar AS besar berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi selama rupiah belum stabil.
Secara teknikal, Nafan memproyeksikan area support IHSG berada di level 6.715 dan 6.590, sedangkan resistance berada di level 6.917 hingga 7.014.