KNKT Rekomendasikan Penutupan Jalan Sitinjau Lauik, Pembangunan Flyover Mendesak
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merekomendasikan penutupan Jalan Sitinjau Lauik yang ekstrem dan berbahaya. Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik mendesak untuk mencegah kecelakaan lalu lintas yang kerap terjadi.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengeluarkan rekomendasi penting terkait Jalan Sitinjau Lauik di Sumatera Barat. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, mengungkapkan bahwa KNKT menyarankan penutupan jalan tersebut karena kondisi geometriknya yang ekstrem dan berpotensi membahayakan pengguna jalan. Rekomendasi ini muncul menyusul tingginya angka kecelakaan di jalur penghubung vital antara Kota Padang dan Solok tersebut.
Setiap hari, hampir selalu ada insiden kecelakaan di Jalan Sitinjau Lauik, sebuah fakta yang disampaikan langsung oleh Gubernur Mahyeldi. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan pusat. Oleh karena itu, pembangunan Jalan Layang Sitinjau Lauik menjadi sangat mendesak untuk segera direalisasikan demi keselamatan transportasi dan kelancaran arus logistik.
Proyek pembangunan Jalan Layang Sitinjau Lauik ditargetkan selesai pada tahun 2027 dengan estimasi biaya mencapai Rp2,7 triliun. Harapan besar disematkan pada proyek ini untuk dapat mencegah dan mengantisipasi kecelakaan lalu lintas yang terus berulang. Kehadiran flyover diharapkan mampu mengatasi tantangan medan yang berat dan meminimalisir risiko bagi pengguna jalan.
Tingginya Angka Kecelakaan dan Dampaknya
Data kepolisian menunjukkan angka kecelakaan lalu lintas di kawasan Jalan Sitinjau Lauik sangat mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, yaitu dari 2020 hingga 2024, tercatat ada 100 kejadian kecelakaan. Angka ini mencerminkan betapa berbahayanya ruas jalan tersebut bagi para pengendara.
Dari total 100 kejadian kecelakaan tersebut, dampak yang ditimbulkan sangat fatal. Sebanyak 36 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 13 orang mengalami luka berat. Sisanya menderita luka ringan. Mayoritas kecelakaan melibatkan truk pengangkut logistik yang mengalami rem blong, lalu terjun ke jurang.
Insiden-insiden ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerugian materiil, tetapi juga menghambat arus perekonomian. Jalan Sitinjau Lauik merupakan jalur utama distribusi barang dari dan menuju Kota Padang, sehingga gangguan pada jalur ini berdampak luas pada aktivitas ekonomi regional. Kondisi ini semakin memperkuat urgensi penanganan serius terhadap permasalahan jalan tersebut.
Flyover Sitinjau Lauik sebagai Solusi Geometrik Jalan
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Elsa Putra Friandi, menegaskan bahwa secara geometrik, Jalan Sitinjau Lauik memang tidak ideal. Karakteristik jalan yang penuh tikungan tajam dan curam menjadi penyebab utama tingginya risiko kecelakaan. Oleh karena itu, pembangunan flyover dianggap sebagai solusi paling efektif untuk mengatasi permasalahan ini.
Flyover Sitinjau Lauik dirancang khusus untuk menjadi jawaban atas tikungan-tikungan tajam dan curam yang selama ini menjadi momok bagi pengendara. Dengan adanya flyover, diharapkan jalur lalu lintas dapat lebih landai dan aman, mengurangi potensi rem blong pada kendaraan berat. Ini akan secara signifikan meningkatkan keselamatan bagi semua pengguna jalan.
Dari hasil kajian lembaga terkait, disebutkan bahwa terdapat sekitar tujuh kilometer ruas jalan di kawasan Sitinjau Lauik yang kondisinya tidak ideal. Proyek flyover yang direncanakan sepanjang 2,2 kilometer ini diharapkan dapat menjadi solusi awal yang konkret. Meskipun tidak mencakup seluruh ruas yang tidak ideal, pembangunan ini diharapkan dapat mengatasi titik-titik paling rawan kecelakaan dan memberikan dampak positif yang besar.
Sumber: AntaraNews