Harga Plastik Melejit, Emiten KEJU Tahan Naikkan Harga Produk dan Pilih Langkah Begini
Menjaga posisi produk yang merakyat menjadi prioritas utama, sehingga setiap keputusan bisnis tidak hanya mempertimbangkan jangka pendek.
Kenaikan harga plastik yang menjadi salah satu komponen utama dalam kemasan mulai memberi tekanan pada industri makanan dan minuman. Namun, di tengah lonjakan biaya tersebut, PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) memilih untuk tidak serta-merta menaikkan harga produk ke konsumen.
Direktur Utama KEJU, Indrasena Patmawidjaja menegaskan bahwa kenaikan harga bukanlah langkah utama yang diambil perseroan. Perusahaan lebih memilih menjaga daya beli masyarakat sembari mencari berbagai strategi untuk mempertahankan profitabilitas.
"Di sini plastik juga sama, kita lihat itu tentunya dari sisi apakah ini jangka panjang atau jangka pendek itu yang pertama. Dan kalaupun ini yang bagi kami salah satu pedoman bagaimana tadi saya bilang terakhir adalah meningkatkan harga, konsumen terutama. Itu buat kami itulah terakhir, opsi terakhir," kata Indrasena dalam Public Expose KEJU, di Jakarta, Selasa (21/4).
Menurutnya, menjaga posisi produk yang merakyat menjadi prioritas utama, sehingga setiap keputusan bisnis tidak hanya mempertimbangkan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.
Indrasena mengakui bahwa harga plastik mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, fenomena ini tidak berdiri sendiri karena turut diikuti kenaikan bahan kemasan lain seperti kertas.
Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga terganggunya pasokan bahan baku seperti turunan minyak. Situasi tersebut membuat biaya produksi perusahaan ikut terdorong naik.
"Bukan dampak dari perang di Iran di Amerika tapi juga dampak dari mungkin pelemahan rupiah dan tentunya juga sifat di dalam negeri sendiri dari segi produksi yang berkurang. Jadi, ada bahan baku atau minyak olein yang juga meningkat tajam," ujarnya.
Inovasi dan Efisiensi Jadi Kunci
Sebagai strategi utama, KEJU mengandalkan inovasi dan efisiensi operasional untuk meredam tekanan margin. Inovasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada peluncuran produk baru, tetapi juga mencakup perbaikan proses produksi dan penggunaan bahan baku.
"Nah mungkin yang tidak kelihatan oleh halayak adalah bagaimana yang kita sebutkan inovasi bagian dari DNA kita dalam beroperasi. Jadi, inovasi itu bukan selalu launching new product. Inovasi yang kami lakukan itu termasuk dari tim di dalam selalu mencari opsi, mencari perbaikan. Baik dari segi bahan baku maupun tentunya packaging material yang dapat lebih baik," ujarnya.
Kata Indrasena, perusahaan selalu mencari alternatif material kemasan yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas produk. Salah satu fokusnya adalah mengurangi penggunaan plastik, yang sekaligus sejalan dengan komitmen keberlanjutan (ESG).
"Inovasi kami terus terang untuk hal plastik sedang kami tingkatkan. Jadi kami ingin pastikan tentunya kualitas produk lebih baik terjamin tapi penggunaan plastiknya bisa berkurang. Ini tidak saja karena kenaikan harga plastik tapi ini juga untuk yang kita sebut sustainability atau bagian dari ESG program kami," pungkasnya.