Ekonom Sebut Influencer yang Bilang Pelemahan Rupiah Untungkan Indonesia Salah Besar
Ekonom Permata Bank menilai narasi pelemahan rupiah menguntungkan ekonomi nasional terlalu menyederhanakan kondisi riil Indonesia.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang ramai diperbincangkan di media sosial dinilai memunculkan pemahaman keliru di tengah masyarakat.
Sejumlah influencer menyebut depresiasi rupiah dapat menguntungkan ekonomi nasional karena mendorong ekspor, namun pandangan tersebut dibantah ekonom.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menegaskan kondisi rupiah yang melemah tidak otomatis membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
“Pelemahan rupiah ini karena sudah mulai beredar di sosial media khususnya influencer ya, khususnya beberapa ahli-ahli saham saya bukannya against dengan mereka, tapi sudah banyak pernyataan-pernyataan yang sangat tidak mengedukasi terkait dengan pelemahan rupiah ini bisa mendukung perekonomian kita melalui penguatan ekspor. Ini sangat keliru, totally wrong,” kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/5/2026).
Menurut dia, masyarakat perlu memahami dampak nilai tukar secara lebih menyeluruh agar tidak terbentuk persepsi yang salah terhadap kondisi ekonomi nasional.
Ekspor Komoditas Untung, Industri Manufaktur Tertekan
Josua menjelaskan memang ada sektor tertentu yang memperoleh keuntungan saat rupiah melemah, terutama eksportir komoditas yang menerima pembayaran dalam dolar AS. Namun kondisi tersebut tidak bisa disamaratakan untuk seluruh sektor usaha.
“Sudah pada tahu ya saya maaf ya salah satu influencer juga yang mengatakan jelas bahwa it's good to have weakening rupiah jelas-jelas dia mengatakan itu, karena ini akan bisa mendorong ekspor,” ujarnya.
Ia menilai industri manufaktur justru menghadapi tekanan lebih besar ketika rupiah terdepresiasi. Sebab, sebagian besar industri dalam negeri masih bergantung pada impor bahan baku dan barang modal dari luar negeri.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor ikut meningkat sehingga beban produksi perusahaan bertambah.
“Intinya adalah itu suatu hal yang keliru, karena kalau kita bicara secara struktural fundamental kita, ekonomi kita it's good, kalau kita bicara ekspor komoditas memang pasti akan sangat diuntungkan tapi kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku ini pasti akan memberatkan dan kembali lagi bagi Bank Indonesia tugasnya Bank Indonesia adalah bukan mengarahkan nilai tukar rupiah ke level tertentu tapi adalah menjaga stabilitas,” jelasnya.
Pelaku Usaha Butuh Kurs Stabil
Menurut Josua, dunia usaha lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar dibandingkan pergerakan kurs yang terlalu tajam, baik melemah maupun menguat.
Stabilitas kurs dinilai penting untuk membantu perusahaan menyusun perencanaan bisnis, khususnya bagi pelaku usaha yang memiliki kontrak impor dan ekspor jangka menengah hingga panjang.
“Jadi, yang juga diharapkan oleh para pelaku usaha pun juga adalah stabilitas karena bagi para pebisnis ya, itu pun yang diharapkan adalah dia men-set bagi yang dia mau impor 3 bulan lagi 6 bulan lagi, dia men-set kalau rupiah stabil dia akan set rupiahnya untuk mendorong lagi level berapa dia akan memastikan butuh perencanaan,” pungkasnya.