Dampak Tarif Trump Dirasakan Masyarakat Awam, PHK Mengintai dan Harga Barang Bakal Naik
Industri dalam negeri yang bergantung pada pasar ekspor ke Amerika Serikat berpotensi mengalami penurunan permintaan akibat kenaikan harga produk Indonesia.
Kebijakan tarif baru yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terus menjadi ancaman dan bayang-bayang ketidakpastian bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Dalam kebijakan tersebut, Indonesia dikenakan tarif balasan atau tarif timbal balik sebesar 32 persen.
Lalu, bagaimana dampak kebijakan ini terhadap masyarakat Indonesia?
Pengamat Ekonomi dari Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menjelaskan, dampak langsung yang paling terasa adalah terhadap sektor industri. Industri dalam negeri yang bergantung pada pasar ekspor ke Amerika Serikat berpotensi mengalami penurunan permintaan akibat kenaikan harga produk Indonesia di pasar Amerika.
Dia menegaskan, penurunan permintaan ini berpotensi menyebabkan pemutusan hubungan kerja atau layoff di sektor-sektor industri yang mengekspor produknya ke Amerika Serikat. Dampaknya tentu akan langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya para pekerja di industri tersebut.
"Penurunan permintaan ini kan akan berpotensi menyebabkan layoff di industri-industri yang mengekspor itu. Ini akibat langsung diterima oleh masyarakat yang bekerja di sektor-sektor itu terpengaruh," kata Ronny kepada merdeka.com, Kamis (10/4).
Ronny menambahkan selain dampak langsung, kebijakan tarif ini juga memicu dampak tidak langsung, yaitu meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Ketika ketidakpastian global semakin tinggi, para investor dunia cenderung akan mencari instrumen investasi yang aman atau safe haven.
Investor akan banyak melepas Rupiah dan menarik dananya keluar dari Indonesia untuk mencari aset yang dianggap lebih aman, seperti emas atau mata uang kuat (hard currency) lainnya. Sehingga, nilai tukar rupiah akan semakin melemah.
"Mereka akan banyak meninggalkan rupiah, membuang rupiah. Dia keluar dari Indonesia, dia mencari safe haven baik emas maupun mata uang yang dianggap hard currency. Jadi ini melemahkan mata uang rupiah," jelas dia.
Picu Kenaikan Harga
Pelemahan nilai tukar rupiah ini, menurut Ronny, akan memicu kenaikan biaya impor. Padahal, sebagian besar industri manufaktur di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku, bahan penolong, atau barang setengah jadi yang diimpor dari luar negeri. Kondisi ini tentu akan membuat biaya produksi dalam negeri meningkat.
Dengan naiknya biaya produksi, maka harga barang manufaktur di dalam negeri yang berbasis impor kemungkinan besar akan ikut naik. Ini berpotensi mendorong laju inflasi di Indonesia.
"Biaya impor itu meningkat, sementara industri kita terutama masih bergantung kepada bahan penolong, bahan baku, barang setengah jadi dari impor yang membuat biaya produksi barang-barang manufaktur di dalam negeri itu berkemungkinan akan meningkat. Ini akan terjadi inflasi juga di Indonesia gara-gara ketidakpastian ini," tambah Ronny.
Pada akhirnya, lanjut Ronny, kenaikan harga barang manufaktur tersebut akan dibebankan kepada konsumen, yaitu masyarakat Indonesia. Apapun jenis industri manufakturnya, selama masih bergantung pada impor, maka kenaikan harga sulit dihindari.
“Karena seperti yang kita tahu rupiah melandainya terlalu jauh hari ini, sangat jauh malah gitu lah. Kalau itu bertahan cukup lama, apalagi memburuk gitu. Ini otomatis akan menaikkan biaya produksi industri manufaktur yang berbasiskan bahan baku, bahan pembantu, atau bahan setengah jadi dari impor gitu. Itu kira-kira dan itu harus dibayar oleh konsumen Indonesia mau tidak mau,” tutup Ronny.