PHK Baru di Industri Teknologi, LinkedIn Disebut Bakal Rumahkan 5 Persen Karyawannya
Tidak seperti perusahaan teknologi lainnya, LinkedIn melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan disebabkan oleh kecerdasan buatan (AI).
LinkedIn berencana untuk mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya pada 13 Mei 2026. Langkah ini merupakan bagian dari perluasan PHK di sektor teknologi.
Mengutip dari Straits Times yang ditulis pada Jumat (15/5/2026), jaringan sosial yang dimiliki Microsoft ini bertujuan untuk memangkas sekitar lima persen dari total jumlah karyawannya.
Hal ini sejalan dengan reorganisasi tim dan penekanan pada fokus karyawan di area bisnis yang sedang berkembang, menurut salah satu sumber.
Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 17.500 pekerja penuh waktu secara global, sebagaimana tercantum di situs web mereka.
Menanggapi pertanyaan dari The Straits Times mengenai pemutusan hubungan kerja tersebut, juru bicara LinkedIn di Singapura menyatakan:
"Sebagai bagian dari perencanaan bisnis reguler kami, kami telah menerapkan perubahan organisasi untuk memposisikan diri kami sebaik mungkin untuk kesuksesan di masa depan."
Namun, perusahaan menolak untuk mengonfirmasi apakah tim yang berada di Singapura akan terpengaruh oleh keputusan ini.
Pemutusan hubungan kerja ini terjadi di tengah peningkatan pendapatan LinkedIn, yang menjual alat perekrutan dan layanan langganan, sebesar 12 persen pada kuartal yang baru saja berakhir dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Ini menunjukkan adanya percepatan pertumbuhan pada tahun 2026, seperti yang tercantum dalam pengajuan sekuritas Microsoft. Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa alasan di balik pemutusan hubungan kerja di LinkedIn bukanlah untuk menggantikan pekerjaan dengan kecerdasan buatan (AI).
Meskipun demikian, ancaman disrupsi yang dipicu oleh AI tetap membayangi perusahaan perangkat lunak dan pekerja secara umum.
Perusahaan-perusahaan teknologi semakin melakukan restrukturisasi operasi mereka dengan berfokus pada AI.
Contohnya, Block yang dimiliki Jack Dorsey mengumumkan pada bulan Februari bahwa mereka berencana untuk mengurangi hampir setengah dari tenaga kerjanya, sementara Cloudflare mengumumkan pengurangan sekitar 20 persen pekan lalu.
Selain itu, Meta Platforms juga menargetkan pemutusan hubungan kerja pada 20 Mei, seperti yang dilaporkan sebelumnya oleh Reuters.
Meskipun beberapa pemimpin di bidang AI telah memperingatkan tentang dampak terhadap pekerjaan, banyak eksekutif di industri lain berpendapat bahwa teknologi seharusnya mengubah pekerjaan, bukan menghapusnya.
Banyak pengembang perangkat lunak di Silicon Valley kini menggunakan AI untuk membantu mereka dalam menghasilkan kode, misalnya.
Menurut Layoffs.fyi, sebuah pelacak pemutusan hubungan kerja untuk pekerja di bidang teknologi, lebih dari 103.000 pemutusan hubungan kerja telah tercatat pada tahun 2026 hingga saat ini.
Angka ini hampir mendekati lebih dari 124.000 pengurangan yang tercatat untuk keseluruhan tahun 2025, menurut informasi dari situs tersebut.
Merembet ke Cisco
Pada 13 Mei, selain melalui LinkedIn, Cisco mengumumkan rencana untuk mengurangi hampir 4.000 posisi kerja. Langkah ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi yang bertujuan untuk mengalihkan fokus investasi ke kecerdasan buatan dan sektor pertumbuhan lainnya.
Perusahaan juga menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya setelah mengalami lonjakan pesanan dari penyedia layanan cloud skala besar (hyperscaler). Saham Cisco melonjak hampir 19 persen dalam perdagangan setelah jam kerja reguler.
CEO Chuck Robbins menyatakan, perusahaan yang akan menang di era AI adalah perusahaan yang fokus, memiliki urgensi, dan disiplin untuk terus mengalihkan investasi ke area di mana permintaan dan penciptaan nilai jangka panjang paling kuat.
Cisco juga mengungkapkan bahwa mereka sedang melakukan investasi strategis di bidang silikon, optik, keamanan, dan penggunaan AI oleh karyawan di seluruh organisasi, meskipun di saat yang sama mengurangi jumlah staf di beberapa sektor.
Cisco tidak mengonfirmasi apakah pengurangan karyawan tersebut berdampak pada staf di Singapura.
Selain itu, perusahaan ini telah menerima pesanan infrastruktur AI senilai USD 5,3 miliar dari penyedia layanan cloud skala besar (hyperscaler) hingga saat ini dalam tahun fiskal ini.
Mereka juga menaikkan ekspektasi total pesanan untuk tahun penuh menjadi USD 9 miliar, meningkat dari USD 5 miliar sebelumnya.
Dengan langkah-langkah ini, Cisco menunjukkan komitmennya untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang, terutama dalam bidang teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.