Meta Tekankan Keamanan Digital, Standar Konten, dan Peluang Monetisasi bagi Jurnalis
Sharon menegaskan bahwa pemahaman terhadap ekosistem platform digital menjadi kebutuhan penting bagi jurnalis saat ini.
Platform digital Meta menekankan pentingnya penguatan kapasitas jurnalis dalam menghadapi dinamika ruang digital yang terus berubah. Hal tersebut disampaikan dalam forum bertajuk #NgobroldiMeta yang digelar di Yogyakarta pada 9–10 April 2026 dan diikuti jurnalis dari berbagai daerah.
Kegiatan ini dibuka oleh Communications Manager Meta Indonesia, Sharon Issabella, bersama Ketua AMSI Wahyu Dhyatmika dan Ketua KTP2JB Suprapto Sastro Atmojo.
Dalam sambutannya, Sharon menegaskan bahwa pemahaman terhadap ekosistem platform digital menjadi kebutuhan penting bagi jurnalis saat ini.
“Ini momentum yang baik untuk memperkuat pemahaman jurnalis terhadap ekosistem Meta, mulai keamanan hingga etika konten. Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat nyata bagi praktik jurnalisme sehari-hari,” ujarnya.
Pada sesi awal, perwakilan Public Policy Meta, Nadhila Renaldi, memaparkan penerapan standar komunitas yang menjadi dasar moderasi konten di platform tersebut. Ia menjelaskan empat pilar utama kebijakan, yakni tindakan kekerasan dan kriminal, keamanan, integritas dan keaslian, serta konten yang menyinggung.
Nadhila mengungkapkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan volume tinggi konten yang diamankan, khususnya terkait perjudian online.
"Meta proaktif dalam menyisir konten pelanggaran. Kami tidak hanya menunggu laporan, tetapi juga melakukan deteksi otomatis terhadap konten-konten yang bertentangan dengan standar komunitas," jelasnya.
Ia juga menjelaskan mekanisme pelaporan konten beserta estimasi waktu penanganannya, serta menekankan pentingnya pemahaman jurnalis terhadap sistem tersebut agar distribusi berita tidak terganggu.
Sementara itu, Imanuel Lamoa dari tim Government, Politics, and Advocacy (GPAC) Meta menyoroti aspek keamanan digital yang dinilai krusial bagi jurnalis.
“Keamanan akun bukan lagi opsi, tetapi kebutuhan. Banyak insiden peretasan terjadi karena akses dikelola tanpa kontrol berlapis,” ujar Imanuel.
Ia mengingatkan pentingnya pemeriksaan rutin terhadap status akun guna mencegah peretasan dan penyalahgunaan akses.
Selain isu keamanan, Imanuel juga memaparkan strategi storytelling di era digital, termasuk teknik membangun narasi dan penggunaan prompt untuk meningkatkan efektivitas produksi konten.
Peluang Monetisasi
Pada sesi berikutnya, Nadhila memaparkan peluang monetisasi yang tengah dikembangkan Meta, salah satunya melalui uji coba fitur WhatsApp Subscribe yang memungkinkan sistem berlangganan seperti di Facebook dan Instagram.
"Peluang monetisasi semakin luas, tapi tetap mensyaratkan kualitas konten dan kepatuhan terhadap kebijakan platform. Integritas konten adalah fondasi ekosistem media yang sehat,” kata Nadhila.
Skema Pendapatan Lain
Ia menambahkan, organisasi media juga dapat memanfaatkan berbagai skema pendapatan lain seperti program kemitraan dan kebijakan iklan yang tersedia di platform Meta.
Diskusi interaktif mewarnai jalannya forum, dengan peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait implementasi kebijakan, keamanan digital, hingga peluang bisnis media di era platform.