Indonesia Berbagi Pengalaman Dewan Pers dengan Malaysia, Perkuat Regulasi Mandiri Media
Indonesia dan Malaysia bertukar pengalaman peran Dewan Pers dalam menjaga independensi dan etika jurnalisme. Dewan Pers Indonesia jadi acuan Majlis Media Malaysia perkuat regulasi mandiri.
Indonesia dan Malaysia saling berbagi pengalaman penting terkait keberadaan serta fungsi Dewan Pers di masing-masing negara. Pertukaran informasi ini terjadi dalam forum Media Solidarity Festival 2026 yang diselenggarakan di Subang Jaya, Selangor, Malaysia, pada Minggu (10/5).
Anggota Dewan Pers Indonesia, Abdul Manan, hadir sebagai pembicara utama untuk memaparkan mekanisme regulasi mandiri pers di Tanah Air. Kehadiran delegasi Indonesia ini merupakan respons atas antusiasme Malaysia dalam mempelajari sistem Dewan Pers yang telah lebih dulu mapan di Indonesia.
Forum ini digagas oleh sejumlah asosiasi jurnalis Malaysia dengan tujuan memperkuat ekosistem media di kawasan. Diskusi mendalam ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi kedua negara dalam menghadapi tantangan jurnalisme modern.
Peran Penting Regulasi Mandiri dan Kode Etik Jurnalistik
Abdul Manan menjelaskan bahwa Indonesia telah lama memiliki Dewan Pers yang independen dan berfungsi sebagai penjaga regulasi mandiri media. Pengalaman ini dibagikan kepada peserta festival untuk menunjukkan bagaimana sistem tersebut bekerja secara efektif. Regulasi mandiri ini mencakup berbagai aspek, termasuk pengembangan serta penegakan kode etik jurnalistik yang kuat.
Menurut Abdul Manan, fungsi utama regulasi mandiri dan kode etik tidak hanya untuk meningkatkan standar kualitas berita. Lebih dari itu, keduanya juga berperan vital dalam melindungi media dan jurnalis dari potensi kriminalisasi. Kepatuhan terhadap kode etik menjadi benteng pertahanan bagi para pelaku pers.
Dengan adanya kode etik yang ditaati, jurnalis dan media diharapkan tidak memberitakan informasi secara sembarangan atau tidak bertanggung jawab. Hal ini sekaligus memastikan bahwa produk jurnalistik yang dihasilkan memiliki akurasi dan integritas tinggi. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa sistem ini mampu menciptakan iklim pers yang sehat dan profesional.
Majlis Media Malaysia Belajar dari Pengalaman Indonesia
Sekretaris Jenderal National Union of Journalists Malaysia (NUJM), Teh Athira Yusoff, mengungkapkan bahwa Malaysia baru satu tahun terakhir memiliki Dewan Media bernama Majlis Media Malaysia (MMM). Oleh karena itu, pengalaman Dewan Pers Indonesia sangat relevan dan berharga bagi mereka. Mereka sangat tertarik untuk memahami bagaimana Dewan Pers Indonesia beroperasi.
Majlis Media Malaysia sedang gencar mempromosikan keberadaan dan fungsi lembaganya kepada publik. Tujuannya adalah agar masyarakat memahami peran Dewan Media dalam mewakili kepentingan pers sekaligus membantu publik memahami kerja media. Proses ini merupakan langkah awal bagi Malaysia dalam membangun ekosistem pers yang lebih terstruktur.
Teh Athira menambahkan bahwa Majlis Media Malaysia banyak mengambil contoh dari Dewan Pers Indonesia, terutama terkait fungsi pengaduan. Fungsi ini memungkinkan sengketa terkait produk jurnalistik diselesaikan melalui Dewan Pers, bukan langsung ke ranah pidana atau perdata. Hal ini memberikan alternatif penyelesaian sengketa yang lebih mediatif dan berorientasi pada etika jurnalistik.
Dalam beberapa bulan terakhir, Majlis Media Malaysia telah menerima sekitar 600 pengaduan dari masyarakat terkait produk jurnalistik. Mayoritas pengaduan tersebut berkaitan dengan publikasi judul berita, akurasi pemberitaan, dan informasi yang diunggah media melalui platform digital. Ini menunjukkan tingginya kebutuhan akan mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif.
Selain pembahasan mengenai Dewan Pers, forum Media Solidarity Festival 2026 juga menyelenggarakan sesi diskusi khusus tentang jurnalisme lingkungan hidup. Sesi ini dipandu oleh jurnalis Astro Awani Malaysia, Luqman Hariz. Para pembicara yang hadir antara lain jurnalis Tempo Agoeng Wijaya, jurnalis Bernama Soon Li Wei, dan jurnalis KiniTV Vivian Yap.
Mereka berbagi pengalaman serta tantangan yang dihadapi selama meliput isu-isu lingkungan hidup. Diskusi ini mencakup aspek-aspek yang bersinggungan dengan ekonomi dan politik setempat, menunjukkan kompleksitas peliputan isu lingkungan. Sesi ini memperkaya wawasan peserta mengenai pentingnya jurnalisme yang bertanggung jawab terhadap isu-isu krusial.
Sumber: AntaraNews