Pada tahun 2024 ini, ajang tahunan MAW Talk Award (MTA) kembali digelar untuk keempat kalinya sejak 2020. Penghargaan ini digelar di Grand Tjokro Hotel Yogyakarta pada Jumat (28/6).
Pada ajang kali ini, sebanyak 39 tokoh dari lembaga di bidang Public Relations (PR), Media, dan Kepemimpinan dinobatkan untuk meraih penghargaan MTA. Mereka dinilai berintegritas dan kinerjanya memberikan dampak besar bagi publik.
Penghargaan itu diselenggarakan oleh MAW Talk, sebuah media baru yang didirikan oleh tokoh PR Indonesia, Asmono Wikan, pada 12 Juni 2020.
Dalam sambutannya, Asmono Wikan mengatakan bahwa MAW Talk berdiri di tengah disrupsi media. melalui penghargaan itu, pihaknya ingin mengapresiasi para pemimpin yang bisa melewati tantangan sulit media dewasa ini.
“Setiap tokoh punya metode masing-masing dalam meraih sukses. Acara ini dipersembahkan bagi Indonesia yang lebih baik di masa depan demi menjaga kewarasan kita di tengah perubahan ini,” ungkap Asmono.
Advertisement
Sebanyak tujuh kategori penghargaan diberikan pada MTA tahun ini yaitu Kategori Tokoh PR Berpengaruh, Lembaga PR Berpengaruh, Tokoh Media Berpengaruh, Lembaga Media Berpengaruh, dan Tokoh Bisnis Berpengaruh.
Sementara itu dewan juri merupakan lima akademisi terkemuka di Yogyakarta, mereka adalah Prof. Dr. Masduki dari Universitas Islam Indonesia (UII), Dr. Christina Rochayati dari UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Adhianty Nurjanah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Rahayu dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dr. Lukas Ispandriarno dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).
Penentuan pemenang dipilih melalui proses penjurian yang cukup panjang. Salah satu kriteria penjurian adalah autentisitas yang dimiliki tokoh tersebut dan seberapa besar pengaruh yang diberikan tokoh tersebut terhadap publik.
“Sesungguhnya kita mencari sesuatu yang original di lingkungannya masing-masing. Entah itu media yang berbasis lokal atau media yang berbasis nasional. Dan kalau bicara tokoh-tokoh sosial juga sama, yaitu mereka-mereka yang punya rekam jejak panjang. Mereka juga menghargai kerja keras dan pencapaian-pencapaian sekecil apapun. Di sinilah penghargaan ini menjadi penting,”
Advertisement
kata salah satu juri, Prof. Dr. Masduki, saat ditemui Merdeka.com di sela-sela acara.
Salah satu tokoh penerima penghargaan itu adalah Luviana Ariyanti. Melalui media yang ia dirikan yaitu Konde.co, ia mempunyai misi untuk membangun media massa yang memiliki perspektif perempuan.
“Untuk saat ini kami masih merupakan media kecil yang berbasis di Jakarta. Tapi kami telah merasakan jatuh bangun selama perjalanan ini, terutama bagaimana menghasilkan produk jurnalisme berspektif perempuan yang berkualitas,” kata Luviana dalam sambutannya.
Salah satu lembaga yang menerima penghargaan itu adalah Radio Komunitas Merapi. Selama ini radio komunitas itu berfokus pada mengenalkan masyarakat di lereng Gunung Merapi terkait ancaman yang mereka hadapi.
Advertisement
“Saya sebenarnya kaget bisa mendapat penghargaan ini. Semoga radio komunitas yang kecil ini tetap semangat dalam memberikan informasi yang benar, apalagi radio ini dibiayai masyarakat dan untuk masyarakat. Harapannya dengan adanya kami masyarakat semakin terliterasi terkait ancaman Gunung Merapi,”
kata Sukiman selaku Koordinator Radio Komunitas Merapi pada Merdeka.com di sela-sela acara.
Acara itu diwarnai dengan pertunjukan Jemparingan yang merupakan simbol dari keseimbangan, ketepatan, kejujuran, dan konsentrasi yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin.
Advertisement