Dubes Indroyono Soesilo, Lulusan ITB dan Mantan Menko Maritim, Perkuat Pelindungan WNI di AS
Duta Besar RI untuk AS, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menegaskan komitmen Indonesia memperkuat pelindungan WNI di AS di tengah kebijakan imigrasi ketat melalui kerja sama erat dengan otoritas setempat.
Pemerintah Indonesia secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam melindungi warga negara di luar negeri. Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat (AS), Dwisuryo Indroyono Soesilo, menegaskan fokus utama ini. Ia menyatakan bahwa upaya pelindungan WNI di AS akan terus diperkuat.
Pernyataan tersebut disampaikan Indroyono pada 28 Agustus, tak lama setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2023. Komitmen ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan pengetatan visa dan imigrasi yang diterapkan oleh pemerintah AS. Langkah ini krusial untuk memastikan keamanan dan hak-hak WNI.
Penguatan pelindungan ini akan ditempuh melalui kerja sama erat dengan otoritas setempat. Kerangka Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-AS, yang resmi berlaku November 2023, menjadi landasan utama. Hal ini menjawab kebutuhan akan perlindungan yang lebih sistematis dan terkoordinasi bagi WNI di negara Paman Sam.
Strategi Penguatan Pelindungan WNI
Dubes Indroyono Soesilo menekankan pentingnya peningkatan kerja sama keimigrasian antara kedua negara. Ia mengusulkan agar pembahasan pelindungan WNI dapat dilakukan pada berbagai tingkatan. Mulai dari kelompok kerja (working group) hingga pejabat tinggi, semua harus terlibat aktif.
Koordinasi intensif akan dijalin dengan Department of Homeland Security (DHS) dan lembaga terkait seperti Immigration and Customs Enforcement (ICE). Tujuan utamanya adalah memastikan adanya pemahaman bersama. Ini terkait kebijakan imigrasi AS yang baru dan dampaknya terhadap WNI.
Selain itu, Dubes RI juga menyoroti pentingnya sosialisasi peraturan keimigrasian AS yang terbaru kepada seluruh WNI yang berada di sana. Ia secara tegas mengingatkan agar para WNI tidak melanggar hukum yang berlaku di Amerika Serikat. Kepatuhan hukum menjadi kunci utama dalam menjaga status dan keberadaan mereka.
Peran Diaspora dan Diplomasi Budaya dalam Pembangunan Nasional
Pemerintah Indonesia tidak hanya fokus pada pelindungan, tetapi juga berupaya mendorong pemanfaatan potensi diaspora Indonesia di AS. Diaspora ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan. Tujuannya adalah mendukung pembangunan nasional di berbagai sektor.
Saat ini, tercatat hampir 9.000 mahasiswa Indonesia sedang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di AS. Mereka tersebar di jenjang sarjana, magister, hingga doktoral. Sekitar 80 di antaranya bahkan telah berkarir sebagai profesor, peneliti di laboratorium terkemuka, atau profesional di perusahaan teknologi global AS.
Indroyono melihat potensi besar dari para diaspora ini. "Mereka bekerja dengan kemampuan dan pengalaman serta penguasaan teknologi yang sangat maju," ujarnya. Potensi ini dapat dimanfaatkan bersama untuk memajukan Indonesia di kancah global.
Selain itu, Indonesia juga aktif mendorong diplomasi sosial budaya di AS. Kerja sama budaya menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Contohnya, terdapat sekitar 300 perangkat gamelan di AS, dengan setidaknya 100 kampus menawarkan mata kuliah gamelan.
Momen pentas akademik mahasiswa gamelan dapat dimanfaatkan oleh Persatuan Masyarakat Indonesia di Amerika Serikat (Pernias). Mereka dapat menyelenggarakan acara "Indonesia Night" di berbagai kampus. Upaya diplomasi budaya ini diharapkan berdampak positif pada promosi pariwisata. Ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Beberapa poin penting terkait upaya pelindungan dan diplomasi Indonesia di AS:
- Dubes Dwisuryo Indroyono Soesilo dilantik pada 25 Agustus 2023 oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
- Beliau adalah lulusan Teknik Geologi ITB (1979) dan memiliki gelar magister serta doktor dari universitas di AS.
- Pernah menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Perikanan dan Akuakultur FAO (2012) dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI (2014-2015).
- Hampir 9.000 mahasiswa Indonesia belajar di AS, dengan sekitar 80 orang berkarir sebagai profesor atau profesional teknologi.
- Terdapat sekitar 300 perangkat gamelan di AS, dan 100 kampus menawarkan mata kuliah gamelan.
Sumber: AntaraNews