Trump Disebut Sadar Rayuan Netanyahu Soal Perang dengan Iran Bakal Menang Cepat, tapi Tak Terbukti
Trump kemungkinan menyadari bahwa Netanyahu terlalu optimistis dalam menjanjikan kemenangan cepat dan tegas.
Mantan duta besar Israel untuk AS, Alon Pinkas, menilai langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendorong negosiasi bisa menjadi sinyal bahwa Washington mulai meragukan klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut Pinkas, Trump kemungkinan menyadari bahwa Netanyahu terlalu optimistis dalam menjanjikan kemenangan cepat dan tegas, termasuk soal peluang perubahan rezim di Iran.
Pandangan serupa disampaikan ilmuwan politik Ori Goldberg. Ia menilai Israel tampaknya tidak dilibatkan dalam proses negosiasi, yang mencerminkan penolakan terhadap upaya Netanyahu untuk mendorong keterlibatan Amerika Serikat lebih dalam dalam perang.
“Apakah ini kekalahan bagi Netanyahu? Tentu saja,” kata Goldberg dikutip dari Al Jazeera, Selasa (24/3/2026).
“Ini menunjukkan Trump pada dasarnya meninggalkan Israel, setidaknya untuk saat ini,” tambahnya.
Goldberg bahkan menyebut posisi Israel dalam percaturan global kini melemah.
“Gagasan bahwa Israel adalah pemain penting yang ingin diajak bicara oleh negara lain sudah hilang. Tidak ada yang ingin berbicara dengan kami,” ujarnya.
Situasi Tak Rugikan Israel
Meski demikian, sejumlah analis menilai situasi ini tidak sepenuhnya merugikan Israel. Netanyahu dan sekutunya selama ini sangat mengandalkan dukungan Trump, terutama setelah kemenangan Trump dalam pemilu presiden AS 2024 yang sempat dipandang sebagai awal hubungan yang lebih erat antara kedua negara.
Namun, sikap Trump yang kerap berubah-ubah serta ketimpangan kekuatan antara AS dan Israel memicu kekhawatiran di berbagai kesempatan, termasuk saat Washington memaksakan gencatan senjata di Gaza pada akhir 2025 dan menghentikan serangan terhadap Iran pada pertengahan 2025.
Analis politik Israel lainnya, Nimrod Flashenberg, menilai Israel memang tidak diharapkan terlibat dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
“Saya tidak pernah melihat ada ekspektasi Israel akan dilibatkan dalam diplomasi. Israel saat ini bukan lagi negara yang mengandalkan jalur diplomasi,” ujarnya dari Berlin.
Namun, ia juga meragukan bahwa Netanyahu benar-benar serius ingin menggulingkan rezim Iran.
“Jika itu tujuannya, ia tidak akan melemahkan atau bahkan menghilangkan banyak pihak di dalam rezim yang justru bisa mendorong perubahan tersebut,” kata Flashenberg.