Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Rosan Roeslani ikut mengkritik pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya, proyek ini sangat tidak efisien, apa lagi selama ini pertumbuhan ekonomi daerah sekitar Jakarta dan Bandung sudah baik.
Tak hanya itu, jalur Jakarta-Bandung saat ini juga sudah terhubung lewat Tol Cipularang. Daerah sekitar juga sudah sangat maju.
"Menurut saya memang, sebetulnya kalau dari segi kebutuhan yang ada kita sudah ada Cipularang. kalau ditujukan untuk pertumbuhan di sekitar sini juga sudah cukup bagus," kata Rosan kepada wartawan di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (2/2).
Meski pembangunan kereta cepat dibebankan pada investor yaitu China, namun ekuitas perusahaan BUMN dipastikan akan tetap terpakai. Proyek ini merupakan patungan bisnis BUMN Indonesia dan China.
"Jadi sebetulnya kalau ada alternatif lain, masih ada banyak yang perlu di dorong, karena itu modalnya, equitynya juga tetap akan ambil dari BUMN. Tetap BUMN uangnya dari negara juga," tuturnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Harjadi Soekamdani menilai tak tepat pemerintah mengikutsertakan kereta cepat sebagai proyek strategis nasional. Apalagi, kereta cepat tersebut merupakan pengembangan moda transportasi di sekitar ibukota.
"Kalau menurut saya sih enggak(perlu), karena kita banyak infrastruktur lain yang menurut kami membutuhkan biaya lebih besar."
Harjadi mendorong pemerintah untuk mengalokasikan dana investasi untuk pengembangan di luar pulau Jawa. Menurutnya tak perlu adanya prioritas pada proyek kereta cepat.
"Artinya kalau dana yang di investasikan di kereta cepat bisa diberikan pada proyek lain yang bisa meningkatkan pertumbuhan di luar Jakarta, mungkin akan lebih bagus. Artinya tidak dalam skala yang harus seperti sekarang yg didorong," tutupnya.