Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjadi salah satu pembicara dalam peringatan Hari Pendidikan Tinggi Teknik ke-73 Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM). Dalam kesempatan itu, Menteri Airlangga menjelaskan asal-usul adanya penyebutan industri 4.0.
"Hingga saat ini kita telah melalui 3 (tiga) revolusi industri, di mana yang pertama (industri 1.0) ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan berlangsung selama kurang lebih 86 tahun," ujarnya di UGM, Yogyakarta, Jumat (22/2).
Selanjutnya, terjadi revolusi melengkapi industri 1.0 yaitu industri 2.0. Industri ini mengalami berbagai perubahan, yang membantu manusia dalam melakukan dan mengerjakan berbagai pekerjaan. Industri ini paling identik dengan penerapan produksi massal dengan memanfaatkan tenaga listrik.
"Kedua melalui penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik berlangsung sekitar 99 tahun, dan yang ketiga (industri 3.0) ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri yang berlangsung 42 tahun," jelas Menteri Airlangga.
Menteri Airlangga melanjutkan, sejak 2011, Indonesia kemudian telah memasuki revolusi industri generasi keempat, yang secara luas dikenal dengan istilah Industri 4.0. Secara global, revolusi industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi.
"Revolusi tersebut merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya sehingga melahirkan model bisnis yang baru dan berbasis digital," jelasnya.
Konektivitas menjadi backbone infrastruktur dalam setiap tahapan revolusi, dari mulai jalan kereta api hingga digital infrastruktur seperti palapa ring. Palapa ring telah memberikan penguatan konektivitas digital khususnya jaringan 4G yang menjangkau 100 persen Indonesia Bagian barat dan bagian tengah serta 90 persen bagian timur.
"Untuk melangkah kesana, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era Industry 4.0," jelasnya.
Ketua Umum Partai Golkar tersebut melanjutkan, perlu diingat bahwa keberadaan dari industry 4.0 ini dapat berjalan dengan harmoni dengan industri-industri 1.0, 2.0. dan 3.0. Di Jogjakarta sendiri, banyak contoh-contoh perusahaan yang telah menjalankan industri 1.0 hingga industri 4.0.
"Implementasi konkritnya kita bisa melihat di Jogja. Jogja punya kawasan Industri 1.0 yang sangat terkenal yaitu Kawasan Batik dan Kawasan Pengrajin Perak di Kota Gede, untuk Industri 2.0 juga tidak kalah ada Kawasan Industri Makanan Ringan Bakpia dan Kaleng Gudeg," paparnya.
"Untuk 3.0 juga ada, kita bisa lihat Industri Susu Sari Husada, hingga yang sudah terapkan 4.0 seperti PT. YPTI. Jogja adalah miniatur dari harmoni ini. Harmoni dalam transformasi. Secara nasional Schneider Electric, Pan Brothers, Panasonic, Daihatsu, Toyota, Mayora dan Mattel sudah menjadi lighthouse dalam percontohan implementasi industri 4.0," tandasnya.