Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menyebut bahwa sangat penting menggunakan hasil negatif PCR sebagai syarat perjalanan. Alasannya, hasil tes Covid-19 dari PCR bisa mencegah masyarakat yang terpapar untuk bepergian dan menularkan virus dalam perjalanannya.
"PCR itu salah satu alat kendali kita untuk mengurangi orang positif (Covid-19) traveling. Itu salah satu kendali kita di samping Peduli Lindungi," kata Luhut dalam podcast Deddy Corbuzier, Jakarta, Rabu (10/11).
Luhut menjelaskan, terkendalinya mobilitas masyarakat sangat menentukan kasus Covid-19. Bila pemerintah membebaskan masyarakat bepergian tanpa pemeriksaan bisa berujung pada tersebarnya virus. Apalagi varian delta AY 4.2 dari Inggris memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat 15 persen dari varian asal India.
"Semakin bebas-bebasnya tanpa pemeriksaan, makin bebas virus itu menyebar. Delta AY 4.2 itu 15 persen lebih menular," kata dia.
Munculnya varian baru ini membuat efikasi vaksin yang sudah dilakukan bisa menurun. Terlebih setelah 6 bulan vaksin disuntikkan mengalami efeknya menurun. "Vaksin itu tidak ada yang efikasinya sampai 100 persen, bahkan setelah 6 bulan menurun," kata dia.
"Saya bulan Maret (divaksin), ini sudah 7 bulan, uni sudah turun (efikasi), mestinya ini sudah booster, tapi kita tunggu aturannya," tambah Luhut.
Terlebih saat ini belum ada negara yang mampu mengontrol varian delta. Sehingga sangat perlu untuk semua pihak lebih berhati-hati dan disiplin.
Luhut juga menyebut tidak menutup kemungkinan penyebaran virus gelombang ketiga. Apalagi setiap ada perayaan hari besar keagamaan kasus Covid-19 mengalami peningkatan karena mobilitas masyarakat yang tidak terkendali.
"Sangat mungkin (gelombang ketiga) kalau kita enggak disiplin, makanya semua hari besar agama dan lain-lain itu pasti ada ujungnya naik karena kita tidak cukup disiplin," kata dia.