Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyebut bahwa remitansi atau pengiriman uang dari luar negeri, terbukti mampu mengurangi kemiskinan di rumah tangga Pekerja Migran Indonesia (PMI).
"Dengan kesempatan mendapatkan upah yang lebih tinggi, pekerja migran mengaku dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga dengan lebih baik. Remitansi dari migrasi terbukti mengurangi kemungkinan rumah tangga PMI jatuh miskin hingga 28 persen," kata Ida dalam Dialog Memerdekakan PMI Menuju Indonesia Maju, Minggu (16/8).
Ida menjelaskan hal itu merupakan hasil survei Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik yang menyebut bahwa bekerja di luar negeri, memungkinkan mereka mendapatkan upah 4-6 kali lebih besar dari upah di Indonesia.
Profil ketenagakerjaan nasional menunjukkan, dari 131 juta angkatan kerja nasional, sekitar 77 juta orang atau 55,89 persen berpendidikan SMP ke bawah. Dari komposisi itu, lapangan usaha yang dapat menerima kualifikasi ini tentunya terbatas. Sehingga kesempatan bekerja ke luar negeri menjadi alternatif untuk mendapatkan penghasilan.
"Namun, harus kita akui mayoritas Pekerja Migran kita baru dapat mengisi pasar kerja dengan level keterampilan yang terbatas,” ujarnya.
Ida mengatakan, jumlah PMI tersebar di beberapa negara seperti di Malaysia sebanyak 55 persen, Saudi Arabia 13 persen, China Taipei 10 persen, Hong Kong 6 persen, Singapura 5 persen, sisanya tersebar di hampir 200 negara.
Sementara itu, dari data penempatan yang tercatat di SiskoTKLN, diperoleh data rata-rata penempatan selama 5 tahun terakhir sekitar 266 ribu orang.
Advertisement
Proporsi pekerja migran perempuan antara 60-70 persen lebih tinggi dari laki-laki dalam 3 tahun terakhir.
Ida mengatakan, guna meningkatkan perlindungan kepada pekerja migran, pemerintah telah mempunyai Atase Ketenagakerjaan di 13 negara penempatan, yakni di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Korea Selatan, Hongkong, Jordania, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi (Jedah dan Riyad), Taiwan dan Suriah.
"Untuk sementara, Atnaker di Suriah ditutup karena alasan krisis keamanan," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com