Masalah di balik pembangunan tol layang Jakarta-Cikampek

Kerugian yang diderita pengguna jalan akibat dari kemacetan di jalan tol selama masa konstruksi bisa mencapai Rp 1,3 triliun.

Hana Adi Perdana
Oleh Hana Adi Perdana - Reporter
Masalah di balik pembangunan tol layang Jakarta-Cikampek
Macet di Tol Cikampek. ©2016 Merdeka.com/Bram Salam

Traffic Engineer PT Stadia, Dadan Rusli mengingatkan agar pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek menggunakan metode yang tepat. Tanpa itu, proses pembangunan bisa menimbulkan gangguan terhadap pengguna jalan karena berkurangnya kapasitas jalan karena badan jalan terpakai selama proses pembangunan.

"Apabila terjadi pengurangan kapasitas yang sudah ada akan merugikan pengguna jalan. Sehingga timbul kerugian bagi masyarakat selama masa konstruksi akan sangat mahal," ujarnya dalam diskusi Coffee Morning Jurnalis Infrastruktur di Chef's Bakery, Jakarta, Jumat (16/12).

Dari hitung-hitungannya, kerugian yang diderita pengguna jalan akibat dari kemacetan di jalan tol selama masa konstruksi bisa mencapai Rp 1,3 triliun. Perhitungan tersebut di kalkulasi berdasarkan jumlah kendaraan yang terjebak kemacetan, waktu yang terbuang selama di jalan dan konsumsi yang terpakai.

"Itu kerugian selama masa konstruksi setahun apabila terhalang dua koridor atau dua lajur itu sekitar Rp 1,3 triliun," kata dia.

Dadan menilai, kerugian yang diderita oleh para pengguna jalan tol yang terjebak kemacetan kerap dianggap sebelah mata oleh investor. Padahal, kerugian yang menimpa pengguna jalan tol sebesar sebuah nilai proyek infrastruktur.

"Di Indonesia itu agak susahnya, setiap kerugian yang ditimbulkan itu kurang dihargai oleh setiap investor sehingga seolah-olah kerugian itu biasa saja, padahal kalau dihitung waktu setiap orang punya waktu sendiri, kerugian satu menit pun ada biayanya di situ, kalau dihitung setiap orang dikalikan sekian mobil sangat besar," pungkasnya.

Rekomendasi