Indonesia Sumbang Setengah Perokok Dewasa Kawasan Asia Tenggara

Data dari Tobacco Atlas, laporan yang diterbitkan oleh American Cancer Society bersama dengan WHO dan Vital Strategies, memprediksikan bahwa jumlah perokok tembakau di Indonesia akan mengalami kenaikan sebanyak 24 juta dari tahun 2015 sampai 2025.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Indonesia Sumbang Setengah Perokok Dewasa Kawasan Asia Tenggara
Rokok. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah menerbitkan laporan yang menemukan bahwa pemakaian tembakau di dunia mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2000. Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa penurunan tersebut hanya terjadi di negara-negara maju, sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia justru mengalami peningkatan.

Sementara itu, data dari Tobacco Atlas, laporan yang diterbitkan oleh American Cancer Society bersama dengan WHO dan Vital Strategies, memprediksikan bahwa jumlah perokok tembakau di Indonesia akan mengalami kenaikan sebanyak 24 juta dari tahun 2015 sampai 2025.

Senior Project Manager for the Bali Tobacco Control Initiative (BTCI), Putu Ayu Swandewi mengaku khawatir akan isu ini. Menurutnya, negara-negara Asia, terutama Indonesia, menghadapi permasalahan yang serius terkait rokok tembakau di mana 2/3 dari laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Indonesia sendiri menyumbang separuh dari jumlah perokok dewasa di kawasan Asia Tenggara. Setiap tahunnya, diperkirakan ada 200.000 kematian yang diakibatkan oleh rokok.

"Selain itu, dilihat dari prevalensinya, jumlah perokok yang berumur di bawah 15 tahun juga meningkat secara signifikan selama beberapa tahun belakangan. Maka itu, kita sangat perlu untuk semakin meningkatkan upaya mencegah kebiasaan merokok," katanya dikutip Antara.

Menurutnya, merokok telah menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat. Di Asia sendiri telah melihat berbagai inisiatif, mulai dari kampanye kesehatan, aturan pajak yang bertujuan untuk memberatkan perokok, hingga metode 'cold turkey' yaitu berhenti langsung secara total. Penelitian tersebut menemukan bahwa 68,5 persen perokok mencoba berhenti dengan metode 'cold turkey' namun hanya 22 persen di antaranya yang berhasil.

"Ketidakefektifan metode-metode ini kemudian mendorong kita untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif lain."

Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah praktisi kesehatan masyarakat telah memperkenalkan suatu pendekatan yang meminimalkan risiko dan dampak negatif merokok tembakau. Dalam jangka panjang, pendekatan ini diharapkan dapat membantu perokok berhenti total. Pendekatan alternatif ini disebut sebagai tobacco harm reduction. Salah satu strategi yang diusulkan oleh konsep harm reduction adalah dengan beralih ke produk tembakau alternatif seperti Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) dan produk heat-not-burn untuk membantu para perokok secara perlahan mengurangi ketergantungan dan kebiasaan mereka dalam merokok tembakau.

Usulan ini antara lain diajukan berdasarkan hasil penelitian oleh Public Health of England (PHE), Departemen Kesehatan dan Kepedulian Sosial Inggris yang menemukan bahwa rokok elektrik 95 persen lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok biasa. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa meskipun rokok elektrik tidak sepenuhnya bebas risiko, produk tersebut secara signifikan lebih rendah risiko dan dapat membantu mereka yang ingin berhenti merokok.

"Pendekatan Tobacco Harm Reduction telah berhasil diadopsi di berbagai negara, seperti Inggris, sebagai bagian dari kebijakan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk membatasi peningkatan jumlah perokok. Meskipun telah ada penelitian dari PHE, topik ini masih memicu debat dan tuntutan diadakannya studi atau regulasi lebih lanjut tentang rokok elektrik."

Rekomendasi