Pesatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan meningkatnya persaingan industri menuntut perusahaan untuk mampu menunjukkan daya saing yang tinggi, baik dalam mengedepankan inovasi produk, menciptakan terobosan strategi pemasaran, sampai dengan melakukan efisiensi biaya operasional. Semua hal tersebut harus dilakukan dengan tidak mengurangi hal yang mendukung standar proses produksi.
Perusahaan hama berstandar internasional, Rentokil Indonesia menjawab tantangan ini dengan mengembangkan unit inovasi. Rentokil Indonesia meluncurkan LUMNIA yang merupakan unit pengendalian hama yang dapat mendukung efisiensi energi listrik, namun tidak menurunkan kualitas dari program pengendalian hama itu sendiri.
Selain modelnya yang futuristik, fitur lain yang disematkan dalam unit ini adalah keberadaan mode energi yang dapat disesuaikan dengan lingkungan untuk mengontrol jumlah pemakaian sinar lampu di siang ataupun malam hari.
Kelebihan LUMNIA yang dikhususkan untuk penangkap lalat ini terletak pada lampu LED yang digunakan, di mana penggunaan lampu tersebut dapat menghemat konsumsi energi listrik sampai dengan 60 persen dibandingkan unit pengendalian serangga terbang yang saat ini masih menggunakan lampu biasa.
"Bayangkan jika pabrik anda yang besar menggunakan banyak unit fly cather, di
nyalakan terus tiap hari karena kebutuhan, berapa biaya listrik yang harus dibayar? Jika diganti oleh LUMNIA, maka perusahaan tentunya akan dapat melakukan cost saving dalam hal tagihan listrik," jelas Managing Director Rentokil Initial Indonesia, Heri Susanto dalam acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/3).
Dalam acara tersebut juga turut hadir Chef Marinka sebagai pembicara mengenai kebersihan dapur yang menurutnya berperan sangat penting dalam suatu industri makanan.
"Proses pembuatan makanan biasanya kita hanya memperhatikan faktor higienis bahan
baku saja, namun faktor pendukung seperti alat pengusir lalat misalnya jarang kita perhatikan, padahal itu sangat penting dalam proses produksi suatu makanan yang baik."