PT Gudang Garam Tbk (GGRM) berencana membangun bandara di Kediri pada 2018. Pembangunan bandara tersebut ditarget selesai pada 2020.
Sekretaris Perusahaan PT Gudang Garam Tbk, Heru Budiman, menuturkan bandara itu berkapasitas internasional dan domestik. Pada awalnya terminal dibangun dengan ukuran tak terlalu besar.
"Masing-masing dua modul," ujar dia dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Jumat (23/3).
Dia menuturkan, pembangunan bandara itu mematuhi semua peraturan dan perundangan yang berlaku. Perseroan akan menggunakan dana internal untuk membangun bandara itu.
"Sumber pendanaan untuk pembangunan bandara dari arus kas operasional yang dihasilkan perusahaan setiap tahun," ujar dia.
Heru menambahkan, dampak pembangunan bandara terhadap kinerja keuangan Perseroan tidak signifikan. Ini karena pendanaan akan dikeluarkan setiap tahun hingga selesai pembangunan bandara.
"Untuk jangka waktu pendek dan menengah, Perseroan tidak mengharapkan ada arus kas positif yang cukup signifikan dari pengoperasian bandara," ujar Heru.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengaku sudah mendengar rencana tersebut. Dikatakan Luhut, saat ini Gudang Garam baru memiliki 400 hektar tanah, sementara yang dibutuhkan adalah 500 hektar tanah.
Setelah itu selesai, nantinya lapangan terbang tersebut akan dihibahkan kepada pemerintah. Pengelolaannya sendiri diberikan kepada AP2. "Jadi milik pemerintah gitu aja," imbuhnya.
Terlebih, kata Menko Luhut, dengan dibangunnya bandar udara di Kediri nanti justru akan membuat daerah tersebut akan lebih maju. "Jumlah CSR yang dikeluarkan mencapai Rp 5 triliun. CSR murni. Dia ingin agar area itu lebih maju. Maka dengan adanya bandara maka daerah itu akan maju. Orang di sana gak perlu ke Surabaya gak perlu ke Solo naik pesawat, dari situ saja. Hebat itu," tandasnya.
Reporter: Agustina Melani
Sumber: Liputan6