Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap impor dengan mendorong produksi dalam negeri. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.
Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia saat ini tengah dalam masa transisi fundamental ekonomi. Indonesia tidak ingin hanya mengandalkan ekspor bahan mentah dalam menggenjot perekonomian. Melainkan harus ada nilai tambah.
"Kita akan alihkan dari ekonomi yang (berbasis) konsumsi menjadi produksi dan investasi," ujarnya.
Ketergantungan Indonesia dengan komoditas ekspor mentah, menurutnya, membuat ekonomi negara ini rentan. Terlihat dari melemahnya nilai tukar Rupiah saat terjadi gejolak ekonomi global.
"Lemahnya Rupiah adalah sinyal kita harus melakukan perbaikan dan moderinsasi regional maupun internasional," tuturnya.
Berbagai produk dalam negeri pun kini sudah mulai bermunculan. Meski jumlahnya masih sedikit, namun berbagai produk ini sudah banyak diminati oleh negara-negara lain. Berikut 4 produk dalam negeri yang mulai bermunculan hingga dilirik banyak negara.
Advertisement
PT Dirgantara Indonesia secara perdana menerbangkan Pesawat N219 pada Rabu (16/8) pagi. Sebelum diterbangkan, pesawat tersebut sudah melakukan rangkaian pengujian pada 9 Agustus 2017 lalu.
Pesawat ini pun telah resmi diberi nama oleh Presiden Joko Widodo dengan nama Nurtanio. Nama ini diambil dari nama pahlawan dirgantara yakni Laksamana Muda Udara anumerta Nurtanio Pringgoadisuryo.
Direktur Produksi PT DI, Arie Wibowo mengatakan, harga satu unit pesawat N219 dibanderol USD 6 juta atau Rp 83 miliar. Harga ini jauh lebih murah bila dibandingkan dengan pesawat sejenisnya seperti Twin Otter buatan Kanada yang dibanderol dengan harga USD 7-USD 8 juta.
Tak hanya lebih murah, menurutnya pesawat N219 didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama wilayah perintis. Sehingga memiliki kemampuan short take off landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground support unit.
Advertisement
Pemerintah tengah mendorong produksi mobil listrik di Tanah air. Tak hanya untuk meningkatkan daya saing, mobil listrik ini juga bertujuan untuk mendukung berkembangnya energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
Setelah mobil Esemka, baru-baru ini mobil listrik buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dipamerkan dalam peresmian Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo), beberapa waktu lalu. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Presiden Jokowi pun berkesempatan menjajal mobil tersebut.
Mobil yang dipamerkan ialah mobil listrik EZZY berkecepatan maksimal 180 kilometer per jam. Mobil ini sudah dirilis pada 2013 lalu di Surabaya, dan sudah digunakan dalam event Tour de Java pada 2-6 Mei 2014 lalu.
Selain mobil listrik, Menteri Basuki juga meninjau Electric Solar Bus yang merupakan bus bertenaga matahari. Bus berwarna merah berkecepatan maksimal 50 km per jam ini dirilis sejak tahun 2015 dan sudah digunakan untuk transportasi mahasiswa.
Advertisement
Pemerintah juga telah membuat kapal navigasi guna mendukung terciptanya keselamatan dan keamanan pelayaran dengan menyediakan sarana dan prasarana trasnportasi laut yang andal.
Salah satunya, Kapal Kelas I Kenavigasian KN Edam yang diresmikan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mulai beroperasi, Kamis (4/1). Peresmian pengoperasian KN Edam ini dilanjutkan dengan pelayaran perdana melintasi alur Pelabuhan Tanjung Priok.
KN Edam merupakan salah satu dari lima Kapal Kelas I Kenavigasian yang dibangun oleh Galangan Kapal PT Palindo Marine Batam pada Tahun Anggaran 2016-2017, yang telah resmi diserahterimakan kepada Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok pada bulan November 2017.
Direktur Kenavigasian Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Sugeng Wibowo menyampaikan bahwa KN Edam merupakan kapal buatan anak bangsa yang diproduksi di industri galangan kapal dalam negeri.
Menurutnya, hal ini merupakan suatu langkah untuk membangkitkan industri-industri lokal, sehingga perekonomian di daerah dapat terus tumbuh dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
"Kita patut berbangga dan saya yakin kualitasnya tak kalah dengan kapal buatan luar negeri," ujarnya seperti dikutip Antara, Kamis (4/1).
Advertisement
PT PAL Indonesia telah meluncurkan dua kapal perang, yakni Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR)-1 dan Kapal Perang Strategic Sealift Vessel (SSV)-1. Upacara peluncuran di Galangan Kapal PT PAL Indonesia, Kawasan Tanjung Perak, Surabaya.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, M. Firmansyah menyebut ada beberapa kecanggihan dalam kapal perang buatan anak bangsa ini. Firmansyah menyebutkan Kapal PKR-1 yang memiliki panjang 105,11 meter, lebar 14,2 meter, dan kecepatan 28 knot ini mampu berlayar selama 20 hari pada kecepatan 14 knot.
"Selain itu, Kapal PKR kelar Frigate ini memiliki peralatan peperangan bawah air lengkap, seperti senjata utama penghancur kapal selam berupa torpedo yang dapat membantu proses peperangan bawah air, serta mampu melakukan peperangan udara dengan senjata rudal antiudara," ucap Firmansyah seperti dikutip dari Antara, Senin (18/1).
Selanjutnya, Kapal SSV merupakan pengembangan kapal pengangkut Landing Platform Dock (LPD) yang didesain panjang 123 meter, lebar 21,8 meter, dan memiliki kecepatan 16 knot dengan ketahanan berlayar selama 30 hari di laut lepas.
Selain itu, SSV juga mampu membawa dua helikopter, dan mengangkut kapal "landing craft utility" (LCU) serta sejumlah tank perang hingga truk militer.
Kapal PKR merupakan pesanan Kementerian Pertahanan RI dan Kapal SSV merupakan kapal canggih karya mandiri anak bangsa dan pesanan Kementerian Pertahanan Filipina yang berada di kelas Lloyd Register.
"Filipina memesan dua unit kapal perang 'Landing Platform Deck' (LPD) jenis SSV kepada Indonesia. Dan pada saat ini dilakukan peluncuran kapal pertama, juga dilakukan peletakan lunas pesanan tahap kedua," katanya.