Budi Waseso: Penggunaan Cadangan Beras Pemerintah Makin Tidak Jelas

Alasannya pasar utama penyaluran beras dari Bulog, yakni program rastra pemerintah telah berganti. Semula pemerintah membagikan beras kepada masyarakat miskin, kini bantuan sosial yang diberikan berupa uang tunai.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Budi Waseso: Penggunaan Cadangan Beras Pemerintah Makin Tidak Jelas
budi waseso. ©2017 Merdeka.com/ER Chania

Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Budi Waseso mengakui bahwa penggunaan cadangan beras pemerintah (CBP) semakin tidak jelas.

Alasannya pasar utama penyaluran beras dari Bulog, yakni program rastra pemerintah telah berganti. Semula pemerintah membagikan beras kepada masyarakat miskin, kini bantuan sosial yang diberikan berupa uang tunai.

"Penggunaan CBP ini makin tidak jelas karena programnya sudah beralih dari bansos renstra ini tidak ada. Kalau sekarang ini semua ada di Kementerian Sosial," kata Budi Waseso di Ombudsman RI, Jakarta, Senin (18/10).

Dihapusnya program tersebut membuat Bulog kehilangan pasar 2,6 juta ton per setahun.

"Persoalannya karena begitu program Mensos rastra jadi BLT dan paket sembako maka CBP ini berhenti. Pasarnya Bulog hilang 2,6 juta ton setahun," ungkap Buwas sapaan Budi Waseso.

Hal ini pun menjadi dilema bagi Perum Bulog dalam hal pengelolaan CBP. Pemerintah meminta agar Perum Bulog menyerap hasil panen petani hingga 1 juta ton sampai 1,5 juta ton per tahun.

Sementara kebutuhan beras untuk antisipasi bencana alam dan KPHS maksimal hanya 850 ribu ton. Di sisi lain pasar penyaluran beras yang dibeli sudah berkurang banyak dan penugasan tersebut tidak bisa ditolak.

"Itu sebabnya kalau kita mau stok CBP 1,5 juta ton saja pasti berlebihan, walaupun perintah negara kita harus siap serap 1,5 juta ton."

Rekomendasi