Bos BI akui masih banyak transaksi pakai mata uang asing di NKRI

"Di tahun lalu penggunaannya di kisaran USD 7 miliar per bulan."

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Bos BI akui masih banyak transaksi pakai mata uang asing di NKRI
Agus Martowardojo. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo meminta industri dalam negeri melakukan transaksi menggunakan mata uang Rupiah. Hal ini dikatakan langsung pada Menteri Perindustrian, Saleh Husin.

"Transaksi yang sebelumnya, masih banyak yang menyelesaikan transaksi di dalam negeri dalam valuta asing. Di tahun yang lalu penggunaannya di kisaran USD 7 miliar per bulan," kata Agus di Jakarta, Rabu (2/3)

Namun, lanjutnya, transaksi menggunakan valuta asing atau mata uang USD berangsur turun, hingga kurang dari USD 4 miliar per bulan saat ini.

Artinya, lanjut Agus, dibutuhkan komitmen semua pihak untuk menjalankan aturan yang dikeluarkan Bank Indonesia untuk penggunaan Rupiah dalam transaksi di wilayah NKRI.

"Kami melihat Kemenperin juga memberikan arahan kepada industri yang di bawah supervisi kemenperin, untuk betul-betul bisa menerapkan penggunaan rupiah di dalam negeri," ujar Agus.

Mantan menteri keuangan tersebut juga membahas perihal sektor-sektor industri khusus yang memerlukan penyesuaian dan transisi bagi industri yang menggunakan valuta asing untuk beralih ke Rupiah.

Sementara itu, lanjutnya, untuk beberapa industri dengan karakteristik khusus dan harus menggunakan USD dalam transaksinya di NKRI, persoalan tersebut perlu dibahas lebih lanjut.

"Tapi yang kami tekankan, UU Mata Uang itu kan jelas, kalau untuk berdagang, transaksi perdagangan di wilayah NKRI harus menggunakan rupiah. Dan kalau masih ingin menggunakan valas, ada aturannya apa-apa saja yang boleh," ujar Agus.

Penggunaan Rupiah dalam transaksi bisnis sektor industri di dalam negeri akan berkontribusi untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap USD.

Rekomendasi