Salah satu fitur unggulan yang membuat iPhone 6s dan 6s Plus layak disebut smartphone tercanggih di dunia adalah keberadaan teknologi 3D Touch. Namun, bagi pegawai Apple yang menciptakan teknologi ini, 3D Touch tak ubahnya 'neraka'.
Menurut Apple, salah satu hal tersulit dalam mengembangkan teknologi 3D Touch adalah menyesuaikan fungsinya dengan keinginan dan kondisi pengguna. Misi yang sejatinya hampir mustahil untuk dilakukan.
"Membuat 3D Touch sangat susah, seperti mencoba membaca pikiran seseorang. Yang tersulit adalah menyesuaikan pemakaian pengguna, sebab mereka bisa saja menggunakannya jempol atau jari telunjuk, saat sedang emosional, berjalan, atau hanya duduk-duduk. Hal-hal seperti itu berdampak pada sensor 3D Touch meskipun pengguna tidak menghendakinya," ujar Craig Federighi, Senior Vice President bidang software engineering Apple pada Bloomberg.
Selain faktor pengguna, tim Apple juga harus bertarung dengan alam demi menyempurnakan 3D Touch. Federighi mengaku bila gaya gravitasi bisa mengacaukan pemindaian sensor 3D Touch.
"Kami harus menggabungkan sensor yang ada dengan accelerometer untuk menghilangkan efek gaya gravitasi. Sementara saat pengguna membalik iPhone, kami harus menambahkan gravitasi. Perbedaan sedikit pun bisa mempengaruhi sensor tekanan," lanjut Federighi.
Perlu diketahui, teknologi 3D Touch memungkinkan layar iPhone 6s membedakan antara sentuhan dan tekanan. Perbedaan itu bisa memberikan banyak fungsi lain, misalnya menekan pelan ikon pesan bisa membuat pengguna 'mengintip' isi pesan itu. Sementara menekan dengan kuat dapat membuka penuh pesan itu di aplikasinya.