Para petani rumput laut di wilayah Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Timor 1 di Pantai Oesina.
Debu pembangunan proyek jetty perusahaan itu banyak yang merusak budidaya rumput laut dan berdampak buruk bagi petani rumput laut di wilayah itu.
"Tahun ini kami tidak bisa panen, semua rumput laut yang kami budidaya rusak. Sudah tiga bulan hasilnya masih sedikit, karena kebanyakan rusak terkena abu," ungkap Sekretaris Kelompok Petani rumput laut Desa Lifuleo, MatheosLaka (49), dilansir dari Liputan6.com, Rabu (24/6).
Advertisement
Menurut MatheosLaka, sebelum ada pembangunan PLTU, para petani biasa memanen rumput laut sebulan sekali. Namun, saat ini, untuk panen rumput laut membutuhkan waktu hingga tiga bulan lamanya.
"Itu pun rumput laut banyak yang rusak dan ukurannya tidak lagi seperti dulu. Pembangunan dermaga ini merusak rumput laut kami," tegasnya.
Advertisement
Debu pembangunan jetty terbawa arus air laut dan menempel di rumput laut. Akibatnya, warna rumput laut menjadi putih. Kalau tidak cepat dipanen, rumput laut akan hancur. Selain merusaki rumput laut, pembangunan Jetty itu juga merusak ekosistem laut yang lain.Rusaknya rumput laut ini membuat harga anjlok karena produksi rumput laut juga merosot."Biasanya hasil panen rumput laut saya 200 kilogram, sejak terkena debu akibat, hanya bisa panen 30 kilogram saja. Kami rugi ratusan juta rupiah," ujarnya.
Advertisement
Ia mengaku, para petani rumput laut sudah mengadu ke pihak perusahaan dan ditindaklanjuti dengan menyurvei lokasi pengembangan rumput laut warga. Namun, hingga saat ini, belum ada solusi.Pihaknya mengancam akan menggelar aksi memblokade jalan menggunakan rumput laut, jika tuntutan mereka akan ganti rugi tidak dipenuhi. Pihak perusahaan diharapkan bisa segera memberikan kompensasi kepada para petani rumput laut.
Advertisement
Manajemen Proyek PLTU TIMOR-1 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, Dian Prihatianto Pamungkas mengatakan, dalam pelaksanaan pembangunan, pihaknya selalu mengedepankan SOP yang baik, sesuai standar perusahaan dan aturan-aturan yang berlaku.
Advertisement
Dian mengatakan, lokasi pembangunan PLTU Timor 1 ini berjarak kurang lebih 650 meter dari permukiman warga terdekat dan sekitar hampir 1,5 kilometer dari lokasi pertanian rumput laut warga di Pantai Oesina."Dengan pertimbangan jarak lokasi yang cukup jauh antara temporary jetty dan lokasi budidaya rumput laut masyarakat sekitar, tentunya sangat minim sekali dampak negatif aktivitas proyek tersebut terhadap pertumbuhan rumput laut petani sekitar," ujar Dian.