Soal Politik Genderuwo, PKS Contohkan Politisi Banyak Janji Tapi tak Ditepati

Hidayat menuturkan, penggunaan kata Genderuwo untuk menggambarkan suatu hal yang menakutkan. Salah satunya adalah banyak menebar janji namun pada kenyataannya tidak ditepati.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Soal Politik Genderuwo, PKS Contohkan Politisi Banyak Janji Tapi tak Ditepati
Muktamar I Ikatan Ulama dan Dai. ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid ikut menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut politikus Genderuwo dan Sontoloyo. Bagi masyarakat Jawa, dua kata itu sangat populer. Namun tidak tepat jika pernyataan itu keluar dari pemimpin negara.

"Saya orang Jawa dan paham istilah itu, sontoloyo dan genderuwo itu ungkapan yang populer di masyarakat Jawa. Tapi apakah layak dipakai oleh seorang presiden? Ini mengingatkan semuanya jangan ada yang berpolitik dengan cara menakutkan," ujar Hidayat di Gedung DPR, Senin (12/11).

Hidayat menuturkan, penggunaan kata Genderuwo untuk menggambarkan suatu hal yang menakutkan. Salah satunya adalah banyak menebar janji namun pada kenyataannya tidak ditepati.

"Menakutkan karena misalnya terlalu banyak berjanji, tapi tidak melaksanakan itu juga menakutkan karena nanti orang tidak percaya dengan orang yang berjanji," ungkapnya.

Tak hanya itu, hal yang menakutkan lainnya adalah yakni politik yang memecah belah keutuhan bangsa.

"Menakutkan kalau kemudian perilaku kita justru menghadirkan politik yang bukan mengayomi tapi politik membelah. Harusnya politik kita yang mengkokohkan NKRI, Bhineka Tunggal Ika , berpedoman pada Pancasila dan kalau itu yang terjadi narasi yang dipakai mestinya narasi yang sejalan dengan itu semuanya," sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, pernyataan Presiden Joko Widodo kembali mencuri perhatian publik. Jokowi menyebut politikus genderuwo yang kerap melakukan propaganda tak sehat untuk menakut-nakuti masyarakat dan menebar pesimisme.

"Politikus genderuwo itu cara politik propaganda, menakut-nakuti rakyat, menimbulkan kekhawatiran dan ujungnya ketidakpastian. Cara itu jangan diteruskanlah, berhenti aja mari kita harapkan politik yang penuh kegembiraan dan penuh kematangan," tutur Jokowi usai Peresmian Ruas Tol Pejagan-Pemalang seksi III dan IV di Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Rekomendasi