Hubungan Partai Demokrat dan PDIP kembali panas. Pemicunya, nyanyian terdakwa Setya Novanto di sidang e-KTP yang menyebut dua politikus PDIP Puan Maharani dan Pramono Anung terima duit senilai USD 500 ribu.
Tak terima dituding, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto malah menyindir Demokrat sebagai partai penguasa yang wajib bertanggung jawab dalam proyek e-KTP. Demokrat pun geram, lewat sang sekjen, Hinca Panjaitan, menyebut pernyataan Hasto dangkal.
Saling tuding terjadi di tengah kedua partai tengah menjalin komunikasi demi Pemilu 2019. Bahkan rencana pertemuan Hasto dan putra Megawati, Prananda Prabowo dengan anak SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tengah disusun.
Namun, Ketua DPP PDIP Arteria Dahlan meyakini, nyanyian Setya Novanto tak akan membuat hubungan kedua partai kembali jauh. Dia mengatakan, kedua partai tersebut hingga kini masih menjalin hubungan yang baik.
"Masih ada, masih terbuka, kita sama sekali enggak ada masalah. Yang kita kedepankan adalah bagaimana Pak Jokowi bisa terpilih lagi, itu tujuan lebih besar partai politik sekarang ini," kata Arteria saat dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat (23/3).
Selanjutnya, dia menambahkan, mengenai koalisi dan pernyataan kasus e-KTP merupakan dua hal yang terpisah. Sehingga tidak dapat dikaitkan satu sama lain.
"Politik itu sangat dinamis dan sangat dewasa, tidak mungkin karena ada noda seperti itu kita tiba-tiba berhenti," ucapnya.
Kendati begitu, anggota Komisi III DPR ini enggan menyebut pernyataan dari Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto dan pihak Partai Demokrat saling menuding mengenai pernyataan dari terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto.
Arteria menyebut itu bukanlah bentuk tudingan, namun hanya ingin memberikan ruang kepada masyarakat untuk berpikir lebih jernih saja.
"Itu hal biasa dalam konteks kemarin itu, buakn tudingan dari PDIP ke Partai Demokrat. Jadi bukan menuding," jelas Arteria.
Reporter: Ika Devianti
Sumber: Liputan6.com