Dituding Penggerak Demo UU Cipta Kerja, SBY Sebut Tuduhan Tak Berdasar dan Fitnah

SBY menyayangkan pihak yang melakukan fitnah dan mempermainkan kebenaran.

Ahda Bayhaqi
Oleh Ahda Bayhaqi - Reporter
Dituding Penggerak Demo UU Cipta Kerja, SBY Sebut Tuduhan Tak Berdasar dan Fitnah
Kongres V Partai Demokrat. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara mengenai isu yang menyudutkan Partai Demokrat sebagai penggerak massa penentang UU Omnibus Law Cipta Kerja. SBY bercerita, tudingan yang menyerang Partai Demokrat dan pribadinya bukan kali ini terjadi. Saat 2016, SBY mengaku pernah dituduh menggerakkan massa aksi 411.

"Saya ini orang tua ya. Pernah berjuang sebagai prajurit selama 30 tahun pernah juga di pemerintahan 15 tahun. Juga mengerti pemerintahan menghadapi masalah, masalah itu mesti dipecahkan. Saya juga mengalami itu. Jadi kalau kemarin saya dituduh seperti itu tidak baik, tidak baik kalau negeri kita makin subur fitnah, hoaks, tuduhan tak berdasar," ujarnya dalam sebuah dialog yang diunggah akun YouTube SBY, Senin (12/10).

SBY menegaskan, tidak memiliki niat maupun pikiran untuk menggerakkan massa. Mantan Ketua Umum Partai Demokrat ini merasa menjadi korban fitnah dan tuduhan

"Andai kata saya ini punya kemampuan menggerakkan gerakan massa yang begitu luas di tanah air kemarin. Andai kata saya punya uang banyak menggerakan aksi begitu, saya tidak punya niat, tidak berpikir untuk melakukan sesuatu yang menurut saya tidak tepat saya lakukan. Dan begini memfitnah itukan sebenarnya menuduh seseorang saya dalam hal ini tidak mengandung kebenaran. Saya menjadi korban," tegasnya.

Lebih lanjut, SBY juga menilai, massa yang menolak UU Cipta Kerja juga pasti merasa terhina jika gerakannya disebut ditunggangi atau diberi uang.

SBY menyayangkan pihak yang melakukan fitnah dan mempermainkan kebenaran. Menurutnya, itu sama saja mempermainkan Tuhan. SBY mengaku hanya bisa bersabar dengan segala tuduhan yang menyerangnya.

"Jadi saya prihatin makin berkembang seperti ini tetapi yang jelas lagi-lagi saya mesti bersabar. Dulu waktu almarhum ibu Ani masih ada saya sering mengalami seperti ini tetapi nampaknya Allah masih meminta saya untuk bersabar. Mudah-mudahan negara kita makin baik dan tidak berkembang fitnah atau tuduhan yang tidak berdasar seperti itu," ucapnya.

Sebelumnya, Demokrat merasa difitnah atas tuduhan bahwa partainya mendanai aksi penolakan UU Cipta Kerja pada Kamis (8/10) kemarin. Kepala Bakomstra DPP Partai Demokrat, Ossy Dermawan mengatakan, upaya fitnah dan berita bohong itu dilancarkan oleh akun-akun buzzer untuk mendiskreditkan Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Majelis Partai.

"Bahwa pernyataan Aksi dan Gerakan besar penolakan UU Ciptaker 8 Oktober 2020, diinisiasi dan didanai oleh Partai Demokrat atau Cikeas adalah pernyataan fitnah dan hoaks serta tidak berdasar. Pernyataan tersebut juga melecehkan kaum buruh, mahasiswa, dan elemen masyarakat lain yang turun ke jalan, yang murni menyuarakan penolakan UU Ciptaker," kata Ossy lewat keterangannya, Jumat (9/10).

Demokrat kesal difitnah danai demo mahasiswa dan buruh tolak UU Cipta Kerja di berbagai daerah Indonesia, Rabu (7/10) dan Kamis (8/10) lalu. Bahkan, Ketua Bappilu Demokrat, Andi Arief sampai ingin mengusulkan Presiden keenam RI, SBY ikut aksi bareng rakyat.

Politikus PDIP Perjuangan Hendrawan Supratikno mengatakan, yang memfitnah SBY sama saja melukai keadaban politik.

"Pak SBY adalah negarawan, Presiden RI ke-6, yang sama-sama kita hormati. Jadi siapa pun yang meremehkan atau memfitnah Pak SBY, akan melukai siapa saja yang berusaha mempromosikan keadaban politik dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara," kata Hendrawan kepada wartawan, Minggu (11/10).

Dia mempertanyakan pihak yang menuduh Demokrat sebagai dalang demo UU Cipta Kerja. Hendrawan menduga hal itu karena persepsi masyarakat.

"Siapa yang menuduh Demokrat sebagai sponsor demo? Jangan-jangan hanya perasaan saja. Atau itu persepsi yang berkembang di masyarakat karena video yang viral bertolak belakang," kata dia.

Anggota Baleg ini bilang, muncul persepsi demikian karena video viral Demokrat membela UU Cipta Kerja saat pembahasan tapi tiba-tiba berbalik menolak.

"Logika rakyat sederhana. Sulit diajak zig-zag atau ikut-ikutan salto politik," ucap Hendrawan.

Rekomendasi