Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tengah melakukan pelbagai langkah pemadaman hutan dan lahan di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kepulauan Riau. Banyak hambatan dialami 1.059 personel TNI dalam memadamkan hutan dan lahan sejak September lalu."Wilayah yang terbakar merupakan semak belukar dan tanah gambut yang mudah terbakar. Terbatasnya alat untuk memadamkan api, tebalnya asap mempengaruhi jarak pandang dan terbatasnya alat berat yang dimiliki perusahaan dalam pengerjaan kanal," kata Jenderal Gatot Nurmatyo dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (22/10).Gatot Nurmantyo menambahkan, Kodam II Sriwijaya melaksanakan operasi pemadaman darat, udara dan pembuat kanal di Prov Sumsel. Hasilnya, Kodam II Sriwijaya dengan Satgas Korem 044/Gapo, Yonif Linud 330, Yonif 141/AYJP dan pihak terkait berhasil memadamkan 14 titik api.Kemudian, 5 titik api dipadamkan di Desa Pancoran, Muara Medak dan Muara Merang Kabupaten Musi Banyuasin."Operasi udara, pesawat Cassa tidak melaksanakan penyemaian dikarenakan tidak adanya potensi awan Kumulonimbus. Pesawat C 130 tidak dapat melaksanakan bombing di Tamnas Sembilang karena cuaca atau jarak pandang. Water bombing Helly Bell 214 bombing sebanyak 35 kali di Pulau Beruang, Sorti Helly Mi 8 bombing sebanyak 36 kali di Air Sugihan dan lain sebagainya," kata dia.Lanjut dia, personel TNI melakukan revitalisasi dan normalisasi dengan pembuatan kanal air dan sekat bakar. Selain itu, Kodam VI Mulawarman membuat kanal air di Kalimantan Selatan."Pembuatan kanal di Kelurahan Gantung Payung, Kabupaten Banjar Baru sepanjang 4.820 meter. Pembuatan embung sebanyak 60 buah, pembuatan sekat air di 3 titik dan normalisasi sungai 5.030 meter serta pembuatan parit 6.010 meter," tukas dia.
Panglima TNI akui ribuan personelnya sulit padamkan kebakaran hutan
Gatot merasa perlu alat untuk memadamkan api dan tambahan alat berat.
Advertisement
Rekomendasi