Pandemi Covid-19 turut menuntut terjadi sebuah perubahan kehidupan masyarakat, salah satunya pada sistem pendidikan di Indonesia yang telah menuntut guru untuk menyesuaikan perubahan yang lebih cepat beradaptasi dengan kemajuan zaman. Maka sistem pendidikan haruslah berubah, khususnya pada pilar pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk memulai memulai persiapan merdeka belajar.
Hal itu disampaikan, Akademisi Institut Teknologi Sepuluh November, Prof Daniel Mohammad Rosyid pada kesempatan seminar daring yang diselenggarakan MGMP Jatim bekerjasama dengan pendidikan.id diikuti peserta sekitar 30.000 guru tersebar di seluruh Indonesia.
"Bahkan sebelum pandemi-pun, merdeka belajar ini sudah menuntut untuk adanya perubahan dalam tiga pilar pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Bersifat paradikmatik dengan cara kerja baru dan cara kerja lama yang tak bisa dipakai lagi," tutur Daniel.
Daniel menilai jika persiapan merdeka belajar harus turut dikembangkan dengan metode belajar yang menyesuaikan kemajuan zaman setelah masuknya era digitalisasi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pergeseran institusional untuk menempatkan peran keluarga yang lebih besar dan saling bersinergi dalam menguatkan pendidikan.
"Kita harus melihat keluarga sebagai satuan pendidikan yang utama dengan merancang kurikulum libatkan keluarga, masyarakat, serta sekolah yang bersifat melengkapi, tambahan. Dan sekolah harus lebih banyak memberikan praktik kepada para peserta didik," katanya.
"Tujuannya adalah memperluas kesempatan belajar untuk memulai hidup merdeka, mandiri, bertanggung jawab, sehat, dan produktif. Maka penting untuk menanamkan sifat yang menuntun keleluasaan belajar," terangnya.
Advertisement
Lebih jauh, Daneil menjelaskan kepada guru harus memulai bagaimana memberikan sebuah pengalaman secara praktik dari hasil proses pendidikan berbicara, membaca, dan menulis kepada peserta didik.
"Jadi pengalaman praktik itu penting untuk memberikan pemaknaan bagi anak secara langsung. Supaya apa yang disampaikan tidak bersifat abstrak. Bisa untuk memanfaatkan teknologi internet digital, walaupun jangan dijadikan tumpuan. Karena itu hanya sebatas alat bantu, namun bukan menjadi alasan kendala," jelasnya.
Daniel kembali mengingatkan kepada para guru jangan sampai menganggap internet menjadi kendala. Karena, kreatif guru bisa tetap menyajikan pendidikan dengan pengalaman dan praktik di luar ruangan yang lebih produktif bagi peserta didik.
"Karena proses pendidikan tidak semua bisa digantikan secara digital, melainkan pendidikan praktik pengalaman secara langsung itulah yang sangat penting. Tujuannya membuat proses belajar akan lebih beragam kepada anak menyalurkan bakat, minat, serta aspirasinya," jelasnya.
Menurutnya, pada persiapan perubahan sistem pendidikan yang merdeka belajar menjadikan kompeten lebih penting, dibandingkan mutu berbasis standart. Karena sistem belajar tidak lagi membutuhkan kurikulum yang ketat, melainkan kurikulum yang lebih kreatif dari guru bahkan melibatkan orang tua.
"Kita butuh melihat lingkungan institusi, budaya setempat, agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan guru harus lebih berani melakukan lokalisasi mutu pendidikan. Jadi saya kira guru harus lebih terbiasa untuk melakukan proses belajar tidak hanya di sekolah," katanya.
"Guru harus tetap kreatif dengan mengembangkan diri jangan sampai sekolah menjadi museum dan guru menjadi dinosaurus. Jangan sampai kita ditinggal anak-anak, dengan misi dan visi mereka yang baru," tambahnya.