Menunggu aksi Ahok lawan predator anak di Jakarta kian meresahkan

Ahok selalu pamer taman anak yang dia buat bisa meminimalisir kekerasan pada bocah.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Menunggu aksi Ahok lawan predator anak di Jakarta kian meresahkan
Ilustrasi Pelecehan Seksual Anak. ©2015 Merdeka.com

Belum hilang dari ingatan kita, bagaimana bocah Neng (9) dihabisi nyawanya oleh pelaku paedofil bernama Agus secara sadis. Neng dibunuh setelah sebelumnya menjadi korban pelecehan seksual oleh Agus.Kini kasus kekerasan seksual pada anak kembali terjadi di Jakarta. Lebih kurang belasan bocah menjadi korban kelakuan bejat Maskur alias Sukur (34)."Jumlah korban ada lebih dri 15. Yang terkonfirmasi ada 11. Motifnya dengan mengiming-imingi uang," kata Kapolres Jakarta Selatan Wahyu Hadiningrat di Mapolres Jakarta Selatan, Jakarta (27/10).Polres Jakarta Selatan menerima laporan pengaduan tersebut pada tanggal 20 Oktober 2015 dari ibu salah satu korban berinisial P (34). Kemudian pelaku berhasil diringkus keesokan harinya di rumahnya di daerah Duren Bangka, Pancoran, Jakarta Selatan.Pelaku awalnya memanggil korban untuk kemudian diciumi dan disodomi. Kerap juga pelaku menonton film porno terlebih dahulu lalu mengulangi kejahatannya kepada para korban.Sebelum kasus sodomi Sukur, beberapa bulan lalu di Jakarta Utara, IW seorang tukang ojek di Kelapa Gading juga ditangkap karena kasus pencabulan. Aksi bejat itu dilakoni IW di dalam Musala.Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Susetio Cahyadi mengungkapkan jika sehari-hari pelaku memang tidur di Musala."Pelaku sudah lama tinggal di rumah ibadah tersebut pasca rumahnya terbakar. Warga situ sudah kenal benar dengan pelaku. Sehingga mereka tidak ada rasa curiga," ujar Susetio kepada wartawan di Mapolres Jakarta Utara, Senin (7/9).Namun, rasa iba warga dibalas IW dengan tindakan tak terpuji. Pelaku mengaku telah mencabuli sepuluh anak di bawah umur dengan cara diiming-imingi uang sebesar Rp 5000."Korban tersebut antara lain BS (12), MMD (15), RR (15), RN (14), MIS (15), NSH (11), NK (13), FRH (13), kedelapan ini sudah di BAP, sedangkan dua korban lainnya masih kami lakukan penyidikan apakah memang korban atau bukan. Pelaku ini seorang tukang ojek di sekitar lingkungannya itu," jelasnya.Lanjut Setio, usai dibawa masuk ke ruang rumah ibadah itu, kemudian korban langsung dicabuli, bahkan korban FRH sempat disodomi oleh pelaku.Rentetan kasus ini mungkin hanya sekian yang terungkap. Beberapa tahun lalu, Jakarta pernah dibuat geger karena predator anak yang dilakukan oleh Babe dan Robot Gesek.Lalu benarkah Jakarta kini darurat predator anak?

Anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq, menyebut peristiwa malang di mana anak jadi korban kekerasan seksual menunjukkan Indonesia telah mengalami kondisi darurat terhadap kekerasan anak."Indonesia memang darurat kekerasan terhadap anak. Tadinya kita berharap kasus Angeline adalah kasus terakhir. Tapi ternyata kasus kekerasan terhadap anak adalah persoalan gunung es yang sangat mengkhawatirkan," kata Maman di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/10).Oleh sebab itu, dia memastikan Komisi VIII DPR yang menaungi masalah perlindungan terhadap anak itu akan mempertanyakan peristiwa ini kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada rapat kerja dengan Komisi VIII DPR."Saya akan meminta Menteri Yohana PP serta KPAI untuk memberi penjelasan tentang peristiwa kekerasan ini," katanya.Ditambahkan Anggota Komisi VIII DPR Hidayat Nur Wahid, dewan sangat mendukung penuh keinginan Presiden Joko Widodo menerbitkan Perppu yang mengatur hukuman kebiri bagi pelaku seksual terhadap anak. Bahkan dia mengusulkan para pelaku ada baiknya pula dihukum mati."Presiden sudah buat keputusan soal kebiri, atau bisa segera perintah ke Mensos dan Menteri Perlindungan anak lakukan revisi UU perlindungan anak untuk memasukkan pengebirian atau hukuman mati," kata Hidayat di gedung DPR, Jakarta, Rabu (22/10).Menurut dia, hukuman tersebut ditujukan agar para pelaku seksual terhadap anak jera. Selain itu, lewat hukuman yang tegas itu, dia meyakini akan membuat takut para pelaku paedofil melakukan aksinya.Melihat maraknya fenomena kekerasan pada anak, lantas apa langkah Ahok sebagai gubernur DKI?

Ahok selalu menggambar-gemborkan penyediaan taman publik ramah anak mampu meminimalisir kekerasan pada anak. Padahal, bila dilihat, kondisi taman anak yang dibuat outdoor malah semakin membuka peluang bagi pelaku karena tahu ada banyak anak yang berkumpul di sana.Saat ini ada enam taman anak yang sudah dia resmikan dan terakhir di Cilincing. Dia yakin, Jakarta akan punya ratusan taman anak setelahnya.Jadi ada enam taman dulu, kalau tahun ini oke, kita mau tambah 50. Tanah sudah dapat 30, kalau tahun ini bisa 50, tahun depan bisa 150. Jadi, nanti setiap keluarga ada taman terpadu, seperti PAUD dan segala macam. Jadi kalau ada orang mau nikah dan tidak mampu, tidak usah lagi sewa gedung atau tutup jalan yang bisa pakai untuk pernikahan," tambahnya.Untuk perawatan lebih lanjut, ditegaskan Ahok akan petugas yang mengelolanya. Untuk keamanan bakal diserahkan ke lurah untuk mengurusnya."Itu kalau rusak ada yang kerja di lapangan dan digaji. Pagar ditutup dan saya suruh pasang CCTV. Jika rusak, kita perbaiki bertahap. Itu tanggung jawabnya lurah. Kalau ada warga yang kedapatan merusak, saya pecat lurahnya. Kita pengennya buka dari jam 5-12 malam agar terhindar dari penggunaan yang salah oleh masyarakat," ringkasnya.Ahok menambahkan masyarakat bisa ikut mengawasi perkembangan anak-anak di lingkungannya. Ke depan diharapkan tidak ada lagi ada anak yang kurang gizi, lansia sakit keras tidak terurus, atau bunuh diri. "Jadi orang bisa tahu kalau ada anak yang sering main di taman, tiba-tiba enggak pernah main, kemana ya? Itu target yang ingin kami capai," katanya.Tak cuma Ahok, Mapolda Metro Jaya juga berencana membuat rumah aman anak. Di sana, anak-anak yang menjadi korban kekerasan atau punya masalah dengan keluarga bisa meminta perlindungan dan membantu untuk melaporkan ke kepolisian.Pemerhati anak Seto Mulyadi menyambut positif rencana itu. Tapi, kata dia, harus ada standar seperti apa tempat aman yang layak untuk anak-anak."Dalam 'Tempat Aman Anak' ini saya kira perlu diberlakukan standar khusus, seperti adanya orang yang memiliki reputasi baik di lingkungannya serta orang terpercaya dalam keamanan anak," terang Kak Seto di Polda Metro Jaya, Rabu (21/10).Pria yang akrab disapa Kak Seto ini menuturkan, standar tersebut sangat diperlukan untuk menghindari hal-hal yang dikhawatirkan akan terjadi pada anak. Semisal, lingkungan safe house itu sendiri ada seorang paedofil, maka anak-anak yang masuk ke dalam tempat itu bukan merasakan aman malah menjadi korban."Kalau begitu kan malah merugikan anak. Bukannya menyelamatkan, malah menyakitkan. Oleh sebab itu, kita butuh standar khusus, hal ini bisa dilakukan dengan awal mewawancara tetangga sekitar sebagai rekomendasi dari warga tersebut. Jadi bukan asal tunjuk saja, artinya jangan sampai tempat ini bukan tempat aman anak malah jadi bahaya buat anak," paparnya.

Rekomendasi