DPRD DKI Soal Banjir Jakarta: Cakupan Wilayahnya Berkurang dan Dampaknya Minim
Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan bahwa banjir tahun 2021 ini terkendali. Sebab, kata Anies, banjir kali ini surut kurang dari enam jam dan tidak ada korban jiwa. Dia pun menilai hal tersebut karena program penanganan banjir yang ia galakkan berhasil, yakni program grebek lumpur.
Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta, Syarif membenarkan pernyataan Anies. Meskipun masih ada 116 RT yang tergenang, dia mengungkapkan, dampak kerugiannya tidak sebesar tahun lalu.
"Masih ada 116 RT yang tergenang tapi mari lihat 3 indikator ini. Banjir disebut teratasi jika durasinya di bawah 6 jam, cakupan wilayahnya berkurang, dan dampaknya minim. Fasilitas publik tidak terdampak. Dengan melihat 3 indikator itu, maka bisa disebut penanganan banjir Jakarta sudah baik," katanya kepada merdeka.com, Selasa (9/2).
Politikus dari fraksi Gerindra itu menilai, banjir kali ini lebih terkendali dari pada tahun sebelumnya. Karena salah satu program penanganan banjir sudah baik, yakni grebek lumpur.
"Salah satu program yang berhasil itu betul gerebek lumpur di sungai dan waduk serta saluran PHB sangat maksimal," ujarnya.
Meskipun begitu, Syarif menambahkan, harus diakui program penanganan banjir lainnya masih belum memuaskan. Hal ini tentunya menghambat mimpi bersama warga DKI, yakni Jakarta yang bebas banjir.
"Sistem polder kita terkendala kemampuan APBD, tapi saya yakin secara bertahap bisa diselesaikan," terangnya.
Seperti yang diketahui, ada lima program penanganan banjir yang sedang dikerjakan oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA), selain grebek lumpur, ada pula program pemeliharaan pompa, penanganan banjir rob dengan membuat tanggul atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), dan sistem polder, dan sumur resapan atau drainase vertikal.
Targetnya di tahun 2021, Dinas SDA bisa membuat 300 ribu sumur resapan air. Syarif berharap, Pemprov DKI bisa menyelesaikan targetnya itu. Sebab, pada akhir tahun 2020, Dinas SDA melaporkan ada 2.974 titik sumur resapan atau dreinase vertikal yang tersebar di 777 tempat. Antara lain sekolah-sekolah, taman kota, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), masjid, dan di gedung-gedung pemerintahan daerah.
"Saya berharap, Pemprov DKI bisa segera menuntaskan permasalahan yang ada. Sumur resapan masih terkendala dengan regulasi, karena ada larangan Pemprov DKI membuat sumur resapan yang bukan aset daerah. Padahal di beberapa titik kritis itu bukan aset Pemprov," tutupnya.
Sebelumnya Anies mengatakan banjir cukup terkendali jika dilihat berdasarkan jumlah RT terdampak. Dari 30.470 RT, jumlah RT yang terendam sebanyak 116 RT.
"Di Jakarta total ada 30.470 RT seluruh wilayah Jakarta. Alhamdulillah dalam musim penghujan dan beberapa waktu ini mayoritas terkendali dengan baik," ujar Anies, Selasa (9/2).
Dia berpandangan penanganan banjir kali ini harus memenuhi 2 target. Pertama, bila terjadi hujan lebat harus dipastikan surut dalam waktu 6 jam setelah hujan reda. Kedua, tidak ada korban jiwa.
"Dan yang ketiga adalah 3 galang. Insya Allah kita akan bisa melewati masa musim penghujan ini dengan baik," ucap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Anies juga mengatakan, penanganan banjir tahun ini cukup berdampak baik dengan adanya program gerebek lumpur.
"Kita bersyukur bahwa program gerebek lumpur yang kita jalankan dalam beberapa bulan terakhir telah menunjukkan hasilnya. Di mana saluran-saluran air dalam sistem drainase di Jakarta, sendimentasinya bisa dibersihkan. Sehingga bisa mengelola limpahan air hujan dengan lebih baik," ucap Anies.
Meski menunjukkan hasil yang diharapkan, Anies mengingatkan warga Jakarta agar tetap waspada mengingat musim hujan belum usai. Untuk itu, ia juga meminta tim penjaga pintu air, Dinas Sumber Daya Air, dan pihak terkait penanganan banjir agar tetap saling berkomunikasi.
Sementara itu Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan banjir yang menggenangi sejumlah wilayah di Ibu Kota tidak surut dalam waktu enam jam seperti instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
"Jadi harus dibedakan banjir yang disebabkan karena genangan atau banjir yang disebabkan karena datang dari banjir bandang," kata Riza di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (8/2).
Salah satunya yakni terkait banjir yang terjadi di kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Kata Riza, banjir di wilayah itu diakibatkan meluapnya Kali Ciliwung karena air kiriman dari Bogor, Jawa Barat.
Lanjut dia, sejumlah wilayah di Ibu Kota juga memiliki permukaan tanah yang rendah. Akibatnya wilayah yang berlokasi di bantaran sungai terdampak luapan air dan mengalami surut yang cukup lama.
"Pejaten Timur itu kan adanya banjir disebabkan karena aliran air yang datang dari Katulampa. Yang dari daerah lain, daerah tetangga yang masuk ke Jakarta ada peningkatan curah hujan di sana masuk jakarta, sehingga ada peningkatan muka air," ucapnya.
Banjir Tak Surut Selama Enam Jam
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan banjir yang menggenangi sejumlah wilayah di Ibu Kota tidak surut dalam waktu enam jam seperti instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
"Jadi harus dibedakan banjir yang disebabkan karena genangan atau banjir yang disebabkan karena datang dari banjir bandang," kata Riza di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (8/2).
Salah satunya yakni terkait banjir yang terjadi di kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Kata Riza, banjir di wilayah itu diakibatkan meluapnya Kali Ciliwung karena air kiriman dari Bogor, Jawa Barat.
Lanjut dia, sejumlah wilayah di Ibu Kota juga memiliki permukaan tanah yang rendah. Akibatnya wilayah yang berlokasi di bantaran sungai terdampak luapan air dan mengalami surut yang cukup lama.
"Pejaten Timur itu kan adanya banjir disebabkan karena aliran air yang datang dari Katulampa. Yang dari daerah lain, daerah tetangga yang masuk ke Jakarta ada peningkatan curah hujan di sana masuk jakarta, sehingga ada peningkatan muka air," ucapnya.
Kendati begitu, dia mengatakan untuk banjir dan genangan di lokasi lain dapat surut tidak lebih dari enam jam.
Hal tersebut berbeda bila banjir yang terjadi di kawasan pinggiran sungai. Sebab harus dilakukan penanganan yang lebih komprehensif.
"Lahannya harus dibebaskan, harus dibuat tanggul, harus dibuat sheet pile nya dan sebagainya itu perlu proses, perlu waktu yang tidak bisa serta merta," jelasnya.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi DKI Jakarta, Sabdo Kurnianto menyatakan hujan yang mengguyur Ibu Kota dan sekitarnya menyebabkan genangan dan banjir di sejumlah titik.
"Tingginya curah hujan di hulu, menyebabkan luapan Kali Sunter dan Kali Ciliwung. Jadi, warga yang tinggal di sekitar Kali terdampak luapan tersebut," kata Sabdo dalam keterangan tertulis, Senin (8/2/2021).
Kata dia, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa. Lanjut Sabdo pihaknya juga menyatakan terdapat puluhan RW di Ibu Kota terdampak banjir akibat hujan deras sejak Minggu (7/2/2021).
Kata dia, jumlah tersebut tersebar di dua kota administrasi yakni Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya