Sosok wanita jelita ini merupakan salah satu tokoh paling penuh intrik dari masa lalu. Dia adalah satu dari empat wanita tercantik dalam sejarah China kuno. Menurut Britannica.com, kisah hidupnya diceritakan kembali dalam syair kuno dan drama. Yang paling terkenal adalah Changhen'ge atau 'tembang penderitaan tiada akhir' oleh Bai Juyi, drama Wutongyu oleh Bai Pu, dan Changshengdian yang digubah oleh Hong Sheng, seniman terkenal pada masa Dinasti Qing.Sosok Yang Guifei dikenal pula dalam sejarah Jepang. Dia disebut-sebut sebagai wanita yang luar biasa cantik sampai bisa menyurutkan kejayaan sebuah dinasti.Bunga pun malu karena kalah rupawanYang Guifei lahir dengan nama Yang Yuhuan. Yang bukan putri orang kebanyakan. Dalam darahnya mengalir darah bangsawan. Kakeknya adalah pejabat penting pada masa Dinasti Sui. Ayahnya, Yang Xuanyan bertugas sebagai pejabat sensus di Prefektur Shu (sekarang Chengdu) dan memboyong keluarganya ke sana. Sayangnya Yang Xuanyan meninggal dunia ketika anak-anaknya masih kecil. Akibatnya Yang Yuhuan dan saudara-saudaranya diasuh oleh sang paman, seorang pejabat rendahan di Henan.Yang Yuhuan tumbuh menjadi gadis dengan kecantikan luar biasa. Sejumlah lukisan kuno menggambarkan sosoknya sebagai wanita bertubuh subur dengan dada ranum.
Patung Yang Guifei di Kolam Huaqing, Xian, China © Wikimedia Commons/Uwe Aranas
Dalam Changhen'ge, Bai Juyi mendeskripsikan rambutnya seperti awan dan wajahnya secantik bunga. Konon bunga-bunga pun tersipu malu karena kalah cantik saat berhadapan dengan Yang Yuhuan.
Lukisan Yang Guifei oleh Hosoda Eishi © British Museum/Hosoda Eishi
Demi cinta, anak sendiri ditikungPada tahun 733, Yang Yuhuan terpilih menjadi mempelai Pangeran Li Mao dari Shou. Dia adalah putra dari Kaisar Xuanzong dan Permaisuri Wu. Saat itu Yang masih berusia 14 tahun. Dia pun mendapat gelar sebagai Putri Shou.Beberapa tahun kemudian Selir Wu yang merupakan istri kesayangan Kaisar meninggal. Kaisar Xuanzong yang merasa kehilangan lantas berupaya mencari pengganti Wu. Dia mencari wanita tercantik di seantero Tiongkok untuk dijadikan selir. Tak disangka cinta sang kaisar justru berlabuh pada Yang Yuhuan yang tak lain adalah menantunya.
Advertisement
Aktris Fan Bingbing memerankan Yang Guifei © 2015 Lady of The Dynasty
Buta karena cinta, Xuanzong pun mengatur taktik untuk memiliki Yang. Yang Yuhuan diperintahkan untuk menjadi pendeta Tao. Dia diasingkan di istana khusus dan diberi nama baru, Taizhen. Xuanzong lantas menganugerahkan istri baru untuk putranya dan mengangkat Yang sebagai selir resmi kerajaan. Saat itu sang kaisar sudah berusia 60 tahun, sementara Yang baru berusia 26 tahun.Di antara ribuan selir, hanya Yang yang dipilihKonon Xuanzong memliki ribuan istri. Ada yang diangkat menjadi selir resmi, ada pula yang sekadar dijadikan simpanan. Namun di antara mereka semua, hanya Yang selalu disambangi. Cinta Xuanzong kepada Yang bahkan melebihi cintanya kepada mendiang Selir Wu. Tak heran kalau Yang dianugerahi gelar tertinggi setelah permaisuri, yaitu Guifei. Sementara gelar resmi Selir Wu saat itu hanya Huifei.
Lukisan Kaisar Xuanzong dan Yang Guifei oleh Kano Eitoku © Wikimedia Commons/Kano Eitoku
Xuanzong memberikan apa saha untuk menyenangkan hati selir kesayangannya itu. Dia menghadiahkan sumber air panas Hua Qing di ibukota Chang An (sekarang Xi'an) agar Yang bisa menghangatkan diri di musim dingin. Dia juga memerintahkan buah leci segar yang jadi favorit Yang Guifei dikirim langsung ke istana.
Sumber air panas Hua Qing © www.travelchinanow.com
Tak cukup sampai di situ, Xuanzong mulai mengabaikan urusan negara karena terlalu sering menghabiskan waktu dengan Yang Guifei. Menurut New World Encyclopedia, sang kaisar yang mahir memainkan alat musik kerap mengiringi Yang Guifei menari dan menyanyi. Keduanya sama-sama mencintai seni.
Advertisement
Advertisement
Saudara dan kerabat ikut kebagian jabatanTak hanya Yang Guifei yang mendapat keistimewaan dari Kaisar Xuanzong. Keluarga besar Yang pun ikut kebagian posisi penting di kerajaan. Ayah, ibu, dan saudara-saudara perempuannya mendapat gelar bangsawan serta kekayaan berlimpah. Konon saat pesta kerajaan berlangsung, saudara perempuan kaisar pun ditempatkan di posisi yang lebih rendah daripada saudara-saudara Yang Guifei.Paman dan sepupu-sepupu Yang juga mendapatkan jabatan penting berkat koneksi mereka dengan sang selir. Yang Guozhong bahkan sampai menduduki posisi perdana menteri atas rekomendasi Yang Guifei. Yang Guifei juga mempromosikan An Lushan, seorang jenderal keturunan Turki hingga menjadi panglima. Yang mengangkat An sebagai anaknya, menimbulkan spekulasi atas hubungan terlarang di antara keduanya. Namun Xuanzong terlalu terbutakan oleh cinta untuk mencurigai selirnya.Pemberontakan yang mengantar Yang Guifei pada ajalPerdana menteri Yang Guozhong dan An Lushan yang tadinya bersekutu mulai berselisih. Pada tahun 755, An Lushan melancarkan pemberontakan Anshi untuk meruntuhkan kekuasaan Xuanzong dan Yang Guozhong. Pasukannya berhasil mendesak ke ibukota dan memaksa keluarga kerajaan melarikan diri. Xuanzong membawa serta Yang Guifei dan saudara-saudara perempuannya, Yang Guozhong, dan jenderal Chen Xuanli.Dalam pelarian ini timbul konflik internal antara para prajurit yang dipimpin oleh Chen Xuanli dan Yang Guozhong. Konon para prajurit merasa marah karena tidak diberi makan. Namun bisa jadi ini cuma taktik Jenderal Chen Xuanli yang ingin menyingkirkan Yang Guozhong.Puncaknya, para prajurit menuntut agar Xuanzong menghukum mati seluruh keluarga Yang, termasuk Yang Guifei. Awalnya kaisar menolak, namun demi keselamatannya sendiri dia terpaksa setuju. Xuanzong memerintahkan kasim terdekatnya untuk membawa Yang Guifei ke kuil Buddha terdekat dan mengeksekusinya.Yang Guifei menjemput ajal dengan jeratan tali sutera di lehernya. Tubuhnya dimakamkan di Mawei tanpa peti mati, tanpa nisan. Diam-diam Xuanzong mengirim sejumlah kasim untuk menguburkan kembali Yang Guifei dengan layak. Setelah kembali ke istana, dia meminta seorang pelukis membuat potret Yang Guifei. Xuanzong menghabiskan masa pensiunnya dengan mengenang Yang Guifei yang masih sangat dicintainya lewat lukisan.Pada tahun 757, Pangeran Li Heng yang telah mengambil alih tahta sebagai Kaisar Suzong berhasil merebut kembali ibukota dan memadamkan pemberontakan An Lushan. Namun Kejayaan Dinasti Tang tak bisa lagi dipulihkan. Dinasti itu telah memasuki masa senjanya sejak Yang Guifei memasuki istana dan mengendalikan kaisar bersama keluarga besarnya.