Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keprihatinannya atas keputusan Ukraina dalam memberlakukan status darurat militer selama 30 hari. Status tersebut diturunkan setelah kedua negara terlibat konfrontasi di laut.
"Kami menyatakan keprihatinan serius atas keputusan Ukraina dalam memberlakukan dekrit darurat militer di negaranya," kata Putin dalam sebuah pernyataan dikeluarkan pemerintah, dikutip dari Straits Times, Selasa (27/11).
Putin yang juga terlibat percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa dia berharap Merkel bisa ikut turun tangan dalam masalah ini dan mencegah Ukraina mengambil tindakan asal.
"Kami juga berharap Jerman bisa mempengaruhi pihak berwenang Ukraina untuk mencegah mereka melakukan tindakan lebih sembrono," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Ukraina dan Rusia saat ini tengah berada dalam kondisi memanas. Hal itu disebabkan oleh langkah Rusia dalam menyita tiga kapal Ukraina di dekat Semenanjung Krimea. Selain menyita, pasukan angkatan laut Rusia juga menembaki kapal dan melukai enam prajurit Ukraina.
Akibat insiden tersebut, parlemen Ukraina memberlakukan dekrit darurat militer selama 30 hari di negaranya. Dalam rapat darurat majelis rendah Verkhovna Rada digelar pada Senin (26/11), sebanyak 276 anggota parlemen memberikan suara untuk mendukung proposal dari Presiden Petro Poroshenko tersebut.
Semula Presiden Poroshenko mengusulkan untuk melakukan darurat militer selama 60 hari, tetapi jangka waktu itu dipersingkat setelah digelar rapat sesi parlemen.
Dengan diberlakukannya darurat militer, maka pemerintah Ukraina akan menerapkan beberapa tindakan drastis jika dianggap perlu mulai dari menempatkan larangan pertemuan publik, membatasi kebebasan media, membatasi pergerakan warga negara Ukraina serta warga negara asing dan menangguhkan pemilihan umum.