Presiden China sebut umat muslim berisiko terinfiltrasi paham teror
Merdeka.com - Presiden Xi Jinping menggelar lawatan ke Kota Yinchuan, Provinsi Ningxia, kawasan barat China yang memiliki populasi penduduk muslim besar. Dalam lawatan ini, dia mendatangi masjid jami di kota itu. Saat berpidato, Jinping menyatakan pemeluk Islam wajib waspada pada infiltrasi paham radikal yang menganjurkan aksi terorisme.
Jinping mengklaim pemerintah Tiongkok tidak berniat menghalang-halangi kebebasan beragama, kendati Partai Komunis China mewajibkan setiap PNS menjadi atheis. Dia meyakini setiap komunitas keagamaan bisa hidup di Negeri Tirai Bambu, asal tidak terlibat aktivitas menjurus radikalisasi.
"Kaum muslim wajib melawan setiap aktivitas dan infiltrasi kegiatan keagamaan ilegal," ujarnya seperti dilansir Kantor Berita Reuters, Kamis (21/7).
Di Ningxia, terdapat 2,4 juta muslim dari etnis Hui. Etnis ini memiliki keleluasaan beribadah lebih besar, dibandingkan warga etnis Uighur yang mayoritas tinggal di Provinsi Xinjiang. Di Xinjiang, warga muslim berulang kali dilaporkan mengalami represi, pelanggaran HAM, serta persekusi hanya karena dianggap hendak memerdekakan diri. Beijing mencap warga Uighur banyak terlibat dalam jaringan teror.

Pangkal masalahnya, ciri fisik Uighur sangat berbeda dari warga Tiongkok kebanyakan. Orang Uighur lebih menyerupai campuran ras Turki dan Afghan. Aparat Beijing mengklaim tak sedikit warga Uighur terlibat dalam jaringan teror Negara Turkestan.
Jinping mengatakan karena telah diberi kebebasan beragama, umat muslim seperti warga Tiongkok lainnya harus hormat pada negara. "Ada kewajiban (penganut Islam) untuk terus merawat tradisi patriotik," kata sang presiden.
Pemimpin Tiongkok itu mengklaim kehadiran Islam di negaranya sudah berakar sejak 5 ribu tahun lalu. Karenanya China, menurut Jinping, sangat menerima kehadiran umat Islam. "Asal menghormati serta membaur dengan nilai-nilai lokal di negara ini," imbuhnya.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya