Politisi Amerika Serikat, Bill Richardson, menggambarkan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi sebagai orang yang mentalnya 'terkungkung'. Pernyataan tersebut disampaikan usai dirinya terlibat perselisihan dengan Suu Kyi dan memutuskan keluar dari panel penasihat yang menangani krisis di Negara Bagian Rakhine.
Richardson juga menyarankan bahwa Suu Kyi harus lebih membuka diri dan terlibat dengan pemerintah Barat agar persoalan yang saat ini terjadi terselesaikan.
"Hubungan antara Myanmar dengan Barat, kelompok hak asasi manusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan media internasional sangat buruk. Dan menurut saya, dia yang telah membawa dirinya kepada kondisi ini," katanya dalam sebuah wawancara telepon, dikutip dari laman Reuters, Sabtu (27/1).
"Berbagai penghinaan yang dia dapat secara konstan dari masyarakat internasional, seharusnya bisa membantu dia. Tetapi dia tampak terisolasi. Dia juga tidak banyak bepergian di negaranya. Saya pikir dia hidup dalam gelembung sendiri," tambahnya.
Meski demikian, Richardson yang sudah lama bersahabat dengan Suu Kyi itu tetap meyakini bahwa wanita tersebut adalah satu-satunya harapan untuk perubahan di Myanmar.
"Saya pikir militer Myanmar adalah pihak yang sepenuhnya bersalah atas krisis yang terjadi dan satu-satunya orang yang bisa mengubahnya saya yakin adalah Aung San Suu Kyi. Dia bisa memulai perubahan itu dari sekarang," ungkapnya.
Sebelumnya, Richardson mengundurkan diri dari panel penasihat yang dibentuk Suu Kyi untuk menangani krisis menimpa warga Muslim Rohingya. Dia menuding bahwa panel tersebut dibuat hanya sebagai perpanjangan dari kebijakan semena-mena yang dibuat Suu Kyi.
Richardson menilai Suu Kyi sebagai sosok pemimpin yang hanya mendahulukan kepentingan pribadi. Bahkan Suu Kyi tampak sama sekali tidak peduli dengan krisis yang dialami oleh penduduk Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh.
"Pada pertemuan pertama panel itu, saya sangat terkejut karena melihat Suu Kyi yang sangat meremehkan media, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kelompok HAM, dan organisasi internasional lainnya yang peduli terhadap krisis tersebut," tulis Richardson dalam surat pengunduran dirinya, dikutip dari laman the Guardian.
"Saya juga melihat ketidaktulusan Suu Kyi terkait isu krisis kemanusiaan yang sedang didiskusikan," tambahnya.