Perempuan di China dilarang pakai rok mini

Reporter : Vincent Asido Panggabean | Kamis, 6 Juni 2013 14:03




Perempuan di China dilarang pakai rok mini
rok mini. shutterstock

Merdeka.com - Polisi China baru-baru ini memperingatkan agar perempuan di negara itu tidak memakai rok mini atau celana pendek ketat untuk menghindari pelecehan seksual di transportasi umum.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Rabu (5/6), pemimpin transportasi dan polisi di Ibu Kota Beijing telah mengeluarkan pedoman ini dalam menanggapi meningkatnya laporan yang menyebut kaum perempuan menjadi sasaran pelecehan seksual, seperti diraba-raba atau direkam secara rahasia dengan menggunakan kamera telepon seluler.

Mereka juga menyarankan agar perempuan tidak duduk di bagian atas geladak bus dan menutupi tubuh mereka dengan menggunakan tas, majalah, atau koran.

Menurut koran China Daily, pernyataan itu berbunyi, 'Perempuan disarankan tidak mengenakan pakaian minim, seperti rok mini atau celana pendek ketat ketika menaiki angkutan umum dan diharapkan segera menelepon polisi jika mereka mendapat perlakuan tidak senonoh'.

Selain itu, di pedoman itu juga menulis agar perempuan juga disarankan tidak duduk di bagian yang lebih tinggi di dalam bus dan berdiri di bagian bawah tangga untuk menghindari menjadi target pengambilan gambar tidak pantas, dan mereka harus melindungi bagian tubuh mereka dengan tas, majalah, atau koran.

Di pedoman itu juga menyatakan bahwa siapa saja yang terbukti melecehkan perempuan maka akan mendapat hukuman, baik berupa denda atau lebih dari 15 hari kurungan penjara.

Seorang perwira polisi, Xing Wei, mengatakan pedoman itu telah diterbitkan melalu biro mikro blog untuk meningkatkan kesadaran wanita akan adanya pelanggaran seperti itu dan memberikan mereka cara untuk melindungi diri mereka sendiri.

"Sulit bagi kita untuk mengumpulkan bukti-bukti dalam kasus pelecehan seksual meskipun ada kamera di bus dan kereta bawah tanah. Untuk melatih pekerja transportasi umum guna membantu perempuan dalam pencegahan pelecehan dan respon juga sulit," kata Xiang.

Direktur Transportasi Umum Beijing Holdings Ltd, Wang Jiansheng, setuju bahwa cara terbaik untuk memecahkan masalah pelecehan seksual adalah dengan meminta kondektur agar terus mengingatkan perempuan untuk melindungi diri mereka sendiri.

Dia menjelaskan saat ini memang tidak ada sistem kamera di transportasi umum atau prosedur penyampaian keluhan bagi para penumpang.

"Namun, di atas semua itu, sebagai perusahaan transportasi, tugas utama kami adalah memberikan pelayanan kepada para penumpang agar mereka bisa sampai ke tempat tujuan," ujar Wang.

[fas]

KUMPULAN BERITA
# China

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Jelang liberalisasi, gerak pengusaha konstruksi asing diperketat
  • Dana kelolaan BPJS jadi sumber pembiayaan proyek MP3EI
  • Menag: Sudah sewajarnya pemerintah akui peran besar pesantren
  • Jadi bandar narkoba, napi Lapas Sragen batal hirup udara bebas
  • Marshanda: Aku tahu posisi aku
  • Khasiat hebat yang tersembunyi di balik pahitnya pare!
  • Sebelum penemuan mayat bocah tanpa organ, bocah 5 tahun diculik
  • Maruarar Sirait usul tak ada kenaikan gaji presiden dan DPR
  • Sidak Wapres Boediono di Imigrasi Jakpus cuma 5 Menit
  • Saksi akui eks Kepala Bappebti sediakan sogokan izin pemakaman
  • SHOW MORE