Venezuela pernah mengalami kejayaan pada masa Hugo Chavez. Memimpin sejak 1999, Chavez melakukan perubahan besar-besaran. Rakyatnya dimanjakan. Pangan, perumahan, transportasi sampai kesehatan disubsidi. Paling fenomenal adalah nasionalisasi aset-aset swasta.
Chavez melakukan itu semua karena punya modal besar. Sumber daya alam minyak sebagai tumpuannya. Dalam data Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tahun 2015, Venezuela punya cadangan minyak mentah dalam perut bumi terbesar di dunia. Jumlahnya 300 miliar barrel. Angka itu lebih besar dibanding Arab Saudi 226 miliar barrel, Iran 158 miliar barrel dan Irak 142 miliar barrel.
Selama menjadi presiden, Chavez memang memegang kendali penuh industri minyak di Venezuela. Keuntungan ekspor minyak mentah itulah yang digunakan Chavez membangun Venezuela. Hingga rakyatnya menganggap Chavez sebagai penyelamat.
Dalam buku "Hugo Chaves : Soekarno dari Venezuela" ada sepenggal kisah tentang bagaimana Chavez memimpin Venezuela. Buku itu ditulis oleh Rory Carroll, wartawan Guardian. Dia menyebut, salah satu keberanian Hugo Chavez adalah mengambil alih semua aset-aset milik swasta.
Ceritanya, saat itu dia menyuruh Walikota Jorge Rodriguez membereskan salah satu wilayah kekuasannya, alun-alun Plaza Bolivar. Rodriguez, sebelum menjadi walikota, adalah wakil presiden mendampingi Chavez.
Hubungan Rodriguez dengan Chavez sempat renggang. Penyebabnya karena kasus penabrakan mobil Audi milik Rodriguez dengan milik teman dekat Chavez. Sang presiden saat itu marah mendengar insiden tersebut. Rodriguez diturunkan jabatannya sebagai wali kota.
Untuk kembali mendapatkan kepercayaan, Rodriguez menjalankan setiap perintah Chavez. Seperti menata ulang alun-alun Plaza Bolivar. Mendapat perintah itu, Rodriguez senang. Ketika berjalan bersama, Chavez melihat toko perhiasan swasta La Francia di gedung yang sudah dikuasai pemerintah. Lantas Chavez meminta Rodriguez untuk mengambil alih toko itu.
"Ambil alih gedung itu! Ambil alih gedung itu!"
Rodriguez langsung menuruti, "Baik."
Lalu keduanya melanjutkan perjalanan. Kemudian Chavez menunjuk salah satu sisi dan bertanya, "Gedung yang di sana, di sudut itu?" Rodriguez menjawab, "Gedung itu juga dipenuhi toko."
Namun Chavez terlihat tak senang. Ia menyipitkan matanya dan berkata, "Bolivar (Pahlawan Amerika Selatan yang berjuang melawan penjajahan Spanyol) tinggal di sana ketika baru menikah, tepat di sana, di rumah dengan dua balkon itu. Sekarang gedung itu menjadi toko! Ambil alih gedung itu!"
Rodriguez langsung paham dan sigap menerima perintah, "Ya! Mengapa tidak, presiden!"
Hampir semua toko perusahaan swasta diambil alih oleh pemerintah. Chavez ingin Caracas, ibukota Venezeula, menjadi pusat sejarah.
"Ya, ambil alih. Kita harus menjadikan ini sebuah pusat sejarah yang hebat. Baiklah, gedung itu sudah jadi, namun kita harus membuat lebih dari itu, membuat proyek arsitektur, proyek sejarah. Kita berada di pusat Caracas."
Sepak terjang Chavez selama memimpin selalu dalam sorotan kamera media. Semua aktivitas Chavez selalu jadi pemberitaan media setempat. Bahkan ada siaran acara live show mingguan; Hello. Chavez menjadikan siaran langsung televisi sebagai bagian penting dari kepemimpinannya. Ia mengundang media untuk meliput pertemuan resmi, dan acara-acara keluarga. Bahkan Chavez turun tangan mengatur detail angel-angel menarik dalam pengambilan gambar dirinya.
Namun langkah Chavez kemudian malah jadi bumerang bagi Venezuela. Semua aset dikuasai pemerintah. Semua bidang kehidupan disubsidi. Akhirnya beban negara menjadi sangat besar. Ketika harga minyak terjun bebas, Venezuela tak punya uang lagi membiayai negaranya. Sektor swasta sudah lama tak bisa diharapkan. Kemiskinan akut terjadi di mana-mana.
Kisah kejayaan Venezuela di mana rakyat hidup terjamin tanpa susah tinggal cerita era Hugo Chavez.