Perdana Menteri Niger, Brigi Rafini menyampaikan, 100 orang diketahui tewas dalam serangan hari Sabtu yang diduga dilakukan kelompok jihadis di desa.
PM Rafini menyampaikan, 70 orang tewas di desa Tchombangou dan 30 orang lainnya di desa Zaroumdareye - keduanya terletak di perbatasan Niger dengan Mali.
Serangan ini merupakan hari paling mematikan dalam sejarah, terjadi ketika Niger berusaha mengatasi kekerasan etnis dan militan Islam.
Dikutip dari BBC, Senin (4/1), tak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Menurut wali kota setempat, Almou Hassane, mereka yang melakukan serangan ini berkendara menggunakan sekitar 100 unit sepeda motor, seperti dilaporkan AFP.
Mereka terbagi menjadi dua kelompok dan melakukan serangan secara bersamaan.
Advertisement
Seorang mantan menteri, Issoufou Issaka menyampaikan kepada AFP, para jihadis melancarkan serangan setelah penduduk desa membunuh dua anggota kelompok mereka, walaupun hal ini belum dikonfirmasi secara resmi.
Wali kota Hassane mengatakan 75 penduduk desa lainnya terluka setelah serangan, dan beberapa orang dievakuasi untuk pengobatab di Ouallam dan ibu kota, Niamey.
Pada Minggu, PM Rafini mengunjungi dua desa tersebut.
"Situasi ini sangat mengerikan, tapi penyelidikan akan dilaksanakan agar kejahatan ini tidak luput dari hukuman," jelasnya kepada wartawan.
Wilayah Tillaberi Niger terletak di dalam wilayah tiga perbatasan antara Niger, Mali dan Burkina Faso, yang kerap menghadapi serangan jihadis selama bertahun-tahun.
Bulan lalu, tujuh tentara Niger tewas dalam penyergapan di wilayah tersebut.
Wilayah Niger juga menghadapi serangan berulang kali oleh jihadis dari negara tetangga Nigeria, tempat pemerintah memerangi pemberontakan Boko Haram.
Sebagai bagian dari upaya untuk memadamkan kekerasan, Prancis telah memimpin koalisi Afrika Barat dan sekutu Eropa melawan militan Islam di Sahel.
Pasukan koalisi telah menjadi sasaran, dan pekan lalu lima tentara Prancis tewas dalam dua insiden terpisah di Mali.
Serangan terbaru di Tillaberi juga terjadi di tengah pemilihan nasional di Niger, ketika Presiden Mahamadou Issoufou mundur setelah dua masa jabatan lima tahun.
Pejabat pemilihan mengumumkan hasil sementara pada Sabtu, menunjukkan keunggulan Mohamed Bazoum - mantan menteri dan anggota partai yang berkuasa di Niger.
Pemungutan suara putaran kedua dijadwalkan pada 21 Februari, setelah surat suara disahkan oleh mahkamah konstitusi negara itu.