Hillary Diane Rodham Clinton (64 tahun) resmi menyatakan siap bertarung sebagai calon presiden Amerika Serikat kemarin (13/4). Dia mengulang upaya yang kandas pada 2009 akibat kalah bersaing dengan Barack Obama pada Kaukus Partai Demokrat. Sejauh ini, istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu masih menjadi capres perempuan paling potensial di Negeri Adi Kuasa tersebut.
Pernyataan Hillary menghebohkan jagat dunia maya. Aktivis perempuan maupun kaum LGBT segera mendukungnya. Banyak pendukung bekas Menlu AS itu yang menyatakan sudah saatnya negara mereka punya presiden perempuan.
Slogan yang dipakai adalah "mari pecahkan atap kaca ini!"
Yang dimaksud atap itu adalah pidato Hillary saat menyatakan kalah bersaing dari Barack Obama. Dia menyatakan di AS masih ada 'atap kaca' yang menghalangi karir politik capres wanita.
Amerika Serikat dinobatkan sebagai negara demokrasi paling mapan di dunia. Walau dari segi penduduk masih kalah dari India, namun rakyat Negeri Abang Sam selalu membanggakan tradisi perpolitikan yang sudah demokratis dari level distrik hingga pemerintah pusat.
Ironisnya, the Nation pada artikel 7 Maret 2014 mencatat di balik kemajuan sistem politik itu, ada bias jender yang menganga. Selama tiga abad, ternyata tak pernah ada presiden perempuan. AS praktis tertinggal dibanding Filipina, Indonesia, atau bahkan Republik Tannu Tuva di antah berantah.
Dari catatan the Economist, di seluruh negara sedunia, telah ada 64 kepala negara perempuan. Sosok pertama adalah Khertek Anchimaa-Toka. Dia memimpin Republik Tannu Tuva, yang independen di bawah Uni Soviet, selama 1940-1944.
Di Asia, pemimpin perempuan pertama pada era modern adalah Presiden Suhbaataryn Yanjmaa yang memimpin Mongolia pada 1953-1954.
Khusus Asia Tenggara, Filipina mendahului negara lain terkait pemimpin negara dari kaum hawa. Presiden Corazon Aquino berkuasa mulai 1986 hingga 1992 setelah rakyat menggulingkan Diktator Ferdinand Marcos. Selanjutnya, Filipina kembali memiliki Presiden perempuan kedua melalui sosok Gloria Macapagal Arroyo.
Indonesia juga akhirnya memiliki presiden wanita melalui sosok Megawati Soekarnoputri yang terpilih pada 23 Juli 2001 menggantikan Abdurrahman Wahid yang dilengserkan sebulan sebelumnya.
Lantas, kenapa AS bisa tertinggal dibanding negara-negara demokrasi yang lebih muda soal sosok perempuan sebagai kepala negara?
Advertisement
The Economist mencatat ada kecenderungan pemilih konservatif di AS yang merasa pemimpin wanita terlalu emosional. Bias itu kabarnya muncul tak hanya di bidang politik tapi juga bisnis. Pemimpin lelaki mendapat apresiasi empat persen lebih tinggi dibanding perempuan melalui riset yang digelar the New York Times.
Jumlah anggota DPR maupun senator wanita di Negeri Paman Sam sampai sekarang belum pernah mencapai 20 persen. Untuk keterwakilan perempuan di parlemen, Indonesia atau Kenya bahkan lebih unggul dari AS.
"Situasi ini hanya bisa berubah bila seorang presiden perempuan terpilih," kata Pendiri Organisasi FairVote, Cynthia Terrel, yang aktif mengampanyekan keterlibatan perempuan pada politik.
Di antara negara maju, AS tertinggal jauh dibanding Denmark, Finlandia, maupun Swedia soal keterlibatan perempuan.
Walaupun menjadi favorit menggantikan Obama, Hillary belum tentu menang. Dia punya catatan buruk pernah menggunakan email pribadi saat bekerja sebagai menlu, serta teledor sehingga dubes AS di Libya tewas oleh serangan teroris.
Selain itu, Partai Republik bersumpah menghadang langkah capres wanita itu pada pemilu 2016. Tanda pagar bertuliskan 'Hentikan Hillary' mulai ramai di Twitter.
Politikus Republikan menilai Hillary tak pantas dipilih hanya karena dia perempuan. "Kebijakannya selama menjabat menlu terbukti gagal, dengan kemunculan ISIS," kata Senator Scott Walker.
Senator Ted Cruz, yang lebih dulu mengumumkan akan mencoba jadi capres Republik, mengatakan Hillary sama saja dengan Obama.
Jalan Amerika Serikat memiliki presiden wanita lebih sulit, bahkan dibanding Indonesia yang merupakan mayoritas muslim.