Afganistan mulai gelar pemungutan suara pemilihan presiden

Pemilihan presiden Afghanistan ketiga ini akan mengakhiri 13 tahun masa pemerintahan Hamid Karzai.

Vincent Asido Panggabean
Afganistan mulai gelar pemungutan suara pemilihan presiden
Perempuan Afghanistan saat memberikan suaranya dalam pemilihan presiden di salah satu TPS di Kandaha. nydailynews.com

Warga Afghanistan hari ini pergi ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memberikan suara mereka dalam memilih pengganti Presiden Hamid Karzai, menantang ancaman dari Taliban untuk tetap melakukan jajak pendapat di saat pasukan Amerika Seriakt mulai menurunkan intervensi panjang mereka di negara itu.

Keamanan super ketat diberlakukan saat TPS dibuka pada pukul 07.00 waktu setempat (09.30 WIB), setelah kelompok Islamis menolak digelarnya pemilu yang dicap sebagai rencana pihak asing dan mendesak para pejuang mereka untuk melancarkan serangan kepada para staf komisi pemilihan umum, para pemilih dan pasukan keamanan, seperti dilansir situs Asia One, Sabtu (5/4).

Pemilihan presiden Afghanistan ketiga ini akan mengakhiri 13 tahun masa pemerintahan Karzai, yang telah memegang kekuasaan sejak Taliban digulingkan pada 2001, dan akan menyerahkan kekuasaan demokratis pertama dalam sejarah di negara kerap bergolak itu.

Pasukan koalisi NATO akan menarik pasukan terakhir mereka sebanyak 51.000 tentara pada tahun ini, meninggalkan pasukan Afghanistan untuk memerangi pemberontakan tangguh dari Taliban tanpa bantuan mereka.

Pengamanan jajak pendapat merupakan perhatian utama mengikuti serangkaian serangan terhadap pejabat tinggi di Ibu Kota Kabul. Baru-baru ini aksi bom bunuh diri di gedung Kementerian Dalam Negeri pada Rabu kemarin membunuh enam perwira polisi.

Menteri Dalam Negeri Afghanistan Omar Daudzai mengatakan sekitar 400.000 petugas polisi, tentara dan intelijen Afghanistan sedang dikerahkan untuk menjamin keamanan di seluruh negeri.

Namun, tidak ada insiden besar dilaporkan terjadi dalam dua jam pertama pemungutan suara pada hari ini, dan tim pemantau menyebut pemilu kali ini lebih kuat daripada di tahun 2009, ketika hanya sekitar sepertiga dari pemilih memberikan suara mereka.

Di Kabul, ratusan orang menunggu dalam cuaca dingin yang basah untuk memberikan suara mereka di tengah keamanan yang ketat, meskipun para pemberontak Taliban berjanji bakal melancarkan akis kekerasan.

"Saya tidak takut ancaman Taliban, kita pasti akan meninggal suatu hari nanti. Saya ingin agar suara saya menjadi sebuah tamparan bagi wajah Taliban," ujar seorang ibu rumah tangga bernama Laila Neyazi, 48 tahun.

Seorang penjaga toko bernama Khodadad, 52 tahun, mengatakan dia telah membawa 12 anggota keluarganya untuk memberikan hak suara mereka.

"Rasanya menyenangkan sekarang orang dapat memilih pemimpin mereka melalui pemungutan suara, bukan dengan senjata dan kekuatan," ucap dia kepada AFP. "Kami bosan dengan penindasan dan perang serta kekerasan, pemungutan suara adalah cara terbaik untuk memilih pemimpin masa depan Anda."

Di Kota Jalalabad, ratusan pemilih menunggu dengan sabar di luar sebuah masjid.

Kampanye pemilu dilakukan tanpa adanya serangan yang signifikan pada calon. Tapi di sebuah rumah amal di Kabul, sebuah hotel mewah, dan kantor komisi pemilihan umum independen mendapat serangan.

Rekomendasi