Warung Sembako Tak Bisa Hindari Ganasnya Dampak Corona Hingga Rumahkan Karyawan
Merdeka.com - Juniardi Firdaus terpaksa merumahkan 3 karyawan toko sembako miliknya di kawasan Depok, Jawa Barat. Sejak virus corona menyebar di Indonesia pendapatan warungnya turun drastis.
Sebelum pandemi, dalam sehari Toko Awit Depok Timur ini bisa meraup omzet Rp2 juta sampai Rp3 juta. Kini, warungnya hanya beromzet Rp500.000 per hari.
"Sebelum pandemi, omzet warung Rp2 juta sampai Rp3 juta. Sekarang omzet Rp500 ribu sampai satu juta sehari," kata Firdaus kepada merdeka.com, Jakarta, Minggu (27/9).
Sebelum pandemi, pelanggan warung kelontong milik Firdaus dari berbagai kalangan. Mulai dari anak sekolah, guru, pedagang keliling, warga komplek hingga warga kampung.
Lokasi warung kelontong Firdaus terbilang strategis. Berseberangan dengan sekolah, dan tidak jauh dari komplek perumahan warga menengah. Selain itu juga ada ada perkampungan warga di belakang toko sembakonya.
Sayangnya, sejak pandemi Covid-19 sekolah ditutup. Lalu banyak wilayah yang ditutup untuk membatasi aktivitas masyarakat. Semata untuk menghindari penyebaran virus corona.
"Pas sekolah libur, semua hilang, belum lagi jalan diportal," ungkap Firdaus.
Pelanggan Turun Drastis
Selama pandemi ini pelanggannya pun menurun drastis. Menyisakan warga kampung yang jalannya tak ditutup.
Dia bercerita, sebelum pandemi warungnya ramai dikunjungi pelanggan. Bahkan baru tutup menjelang tengah malam. Sekarang, dia lebih banyak melamun menunggu pembeli datang.
"Pelanggan berkurang, jadi banyak nganggurnya ketimbang melayani konsumen," katanya seraya tertawa.
Bahkan beras yang merupakan kebutuhan pokok pun tak laku dijual lantaran banyak warga yang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Padahal sebelumnya dalam sebulan dia mampu menjual beras hingga 200 kilogram sebulan.
Kini sembako yang masih dicari pelanggan berupa terigu, minyak, gula pasir, susu , mie instan, dan telur.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya