Tahukah Anda? Peremajaan Sawit Rakyat, Kunci Ketahanan Pangan dan Energi Nasional Menurut PalmCo
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan peremajaan sawit rakyat adalah kunci ketahanan pangan dan energi nasional, mendorong kolaborasi.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, baru-baru ini menegaskan bahwa peremajaan sawit rakyat merupakan fondasi utama bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam seminar internasional The 2nd International Conference on Agriculture, Food and Environmental Science (ICAFES) tahun 2025 di Universitas Riau, Pekanbaru. Menurut Jatmiko, potensi besar dari komoditas sawit yang selama ini menjadi penopang ekonomi Indonesia dapat lebih dioptimalkan melalui upaya tersebut.
Penguatan ketahanan pangan dan energi melalui sektor sawit memiliki ruang perbaikan yang signifikan, khususnya dari sisi petani. Jatmiko menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mendorong intensifikasi produktivitas sawit petani, yang saat ini masih memiliki banyak ruang untuk dioptimalkan. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi disparitas produktivitas antara petani dan korporasi perkebunan.
PTPN IV PalmCo mengusung dua kunci utama untuk mendukung program nasional ini, salah satunya adalah penguatan produktivitas petani sawit. Dengan kolaborasi yang terjalin, bukan hanya ketahanan pangan dari sektor sawit yang dapat terwujud, tetapi juga target pemerintah dalam implementasi B50 pada tahun 2027 dapat tercapai.
Optimalisasi Produktivitas Petani Sawit: Tantangan dan Solusi PalmCo
Produktivitas petani sawit di Indonesia saat ini masih berada pada kisaran 2–3 ton crude palm oil (CPO) per hektare per tahun. Angka ini jauh di bawah standar korporasi perkebunan profesional yang mampu mencapai 6 ton CPO per hektare per tahun. Disparitas ini menjadi tantangan utama dalam upaya peningkatan kontribusi sawit terhadap ketahanan pangan dan energi.
Untuk mengatasi kesenjangan produktivitas ini, PTPN IV PalmCo telah meluncurkan berbagai inisiatif penting. Program “BUMN Untuk Sawit Rakyat” menjadi salah satu pilar utama, diikuti dengan penyediaan bibit unggul bersertifikat. Hingga saat ini, lebih dari dua juta batang bibit sawit unggul telah diserap oleh petani, menunjukkan antusiasme dan potensi peningkatan hasil.
Selain itu, PalmCo juga menerapkan skema off-taker yang telah menjangkau lebih dari 10.200 hektare lahan sawit petani. Penguatan sistem kelembagaan organisasi koperasi juga menjadi fokus untuk memastikan keberlanjutan program. Hingga tahun 2024, PalmCo telah berhasil mendukung pencairan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk areal peremajaan sawit mitra Koperasi Unit Desa (KUD) seluas 15.321 hektare.
Keberhasilan model kemitraan ini terlihat dari produktivitas tanaman menghasilkan (TM) plasma yang mencapai rata-rata 12,57 ton/Ha, bahkan ada yang mencapai 18,05 ton/Ha. Angka ini melampaui standar nasional yang ditetapkan sebesar 12 ton/Ha, membuktikan bahwa peremajaan sawit rakyat memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Peran Kolaborasi dalam Ketahanan Pangan dan Energi Nasional
Jatmiko Santosa menegaskan bahwa peremajaan sawit rakyat bukan hanya kunci menjaga daya saing, tetapi juga kontribusi vital bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk berkolaborasi memperkuat inisiatif ini secara berkelanjutan. Forum seminar internasional ICAFES 2025 menjadi wadah penting untuk membangun sinergi tersebut.
Seminar ini dihadiri oleh ratusan peserta, termasuk dekan Fakultas Pertanian dari seluruh Indonesia, dosen, peneliti, dan mahasiswa pertanian. Kehadiran para ahli pangan dan lingkungan dari berbagai belahan dunia, seperti Johan Kieft dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dr. Idesert Jelsma dari Belanda, dan Prof. Ir. Usman Pato dari Jepang, semakin memperkaya diskusi. Para peneliti dan akademisi dari Malaysia dan Filipina juga turut serta, menunjukkan pentingnya isu ini di tingkat regional dan global.
Jatmiko berharap, melalui forum ini, semua pihak dapat saling berkolaborasi dan bersinergi untuk memperkuat inisiatif peremajaan sawit rakyat. Jika kolaborasi untuk intensifikasi ini dapat terlaksana dengan baik, bukan hanya ketahanan pangan dari sektor sawit yang dapat diwujudkan, melainkan target pemerintah dalam implementasi B50 pada tahun 2027 juga bisa terpenuhi.
Sumber: AntaraNews