Kebijakan pangan yang diterapkan pemerintah dalam satu tahun terakhir mulai menunjukkan dampak positif yang signifikan bagi sektor pertanian nasional. Peningkatan ini tidak hanya dirasakan oleh para petani, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan lapangan pekerjaan baru. Hal ini diungkapkan oleh Peneliti dan pakar pangan Universitas Andalas, Muhammad Makky, dalam sebuah diskusi publik di Jakarta.
Salah satu kebijakan yang paling dirasakan dampaknya adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Penetapan HPP ini secara langsung meningkatkan pendapatan petani, memungkinkan mereka untuk memutar roda perekonomian di pedesaan. Situasi ini berbeda jauh dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Tidak hanya itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), program pertanian pemerintah berhasil menciptakan sekitar 850 ribu lapangan kerja baru dalam enam bulan terakhir. Angka ini menegaskan peran vital sektor pertanian sebagai penyerap tenaga kerja utama, bahkan ketika sektor industri mengalami penurunan serapan tenaga kerja.
Advertisement
Advertisement
Muhammad Makky, seorang dosen sekaligus petani, menjelaskan bahwa HPP gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram benar-benar dirasakan langsung oleh petani. Kebijakan ini memberikan keuntungan riil yang sebelumnya sulit didapatkan. Petani kini dapat mengalokasikan dana lebih untuk kebutuhan operasional.
Makky memberikan contoh nyata dampak positif tersebut. "Itu benar-benar langsung dirasakan petani. Contoh, sekarang kita bisa nyewa ojeg buat ngangkut panen. Kalau dulu boro-boro mau bayar, balik modal saja sudah bersyukur. Karena sekarang ada lebih, dari harga jual, lebihnya banyak. Sekarang jadi ada profesi baru buat angkut hasil panen," ujarnya.
Peningkatan pendapatan ini tidak hanya memperbaiki kesejahteraan individu petani. Lebih jauh, keuntungan yang diperoleh mampu memutar perekonomian pedesaan. Hal ini menciptakan efek domino positif bagi masyarakat di sekitar sentra produksi pertanian.
Advertisement
Advertisement
Di kesempatan yang sama, Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati memaparkan data menarik dari BPS. Data tersebut menunjukkan program pertanian pemerintah berhasil menciptakan sekitar 850 ribu lapangan kerja baru dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Angka ini sangat signifikan dalam konteks penyerapan tenaga kerja nasional.
"Lapangan kerja di sektor pertanian naik signifikan, sedangkan industri justru mengalami penurunan sekitar 410 ribu. Ini menunjukkan sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja utama," jelas Nina. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran fokus penyerapan tenaga kerja ke sektor pertanian.
Peningkatan aktivitas di sektor pertanian, terutama di daerah pedesaan, turut memicu efek ganda terhadap ekonomi lokal. Berbagai kegiatan seperti panen, penggilingan, hingga distribusi hasil pertanian secara langsung menghidupkan sektor jasa dan perdagangan. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih dinamis.
Advertisement
Advertisement
Muhammad Makky menekankan pentingnya menjaga momentum positif ini. Ia berharap tidak ada gangguan impor di sektor pertanian, khususnya beras, yang dapat merusak fondasi ekonomi yang sedang dibangun. Penguatan fondasi ini krusial untuk keberlanjutan sektor pertanian.
Dengan prospek yang semakin menjanjikan, profesi petani diharapkan kembali menarik minat generasi muda. Mereka yang sebelumnya enggan, kini mulai melirik potensi di bidang pertanian. "Jadi nanti orang-orang yang merantau pulang lagi ke kampung ya. Ada pekerjaan, ada penghasilan. Kan seperti itu," kata Makky.
Ninasapti Triaswati menambahkan bahwa daripada bergantung pada impor, lebih baik memberdayakan tenaga kerja lokal. "Daripada impor (impor beras), biarlah operator traktor dapat pekerjaan, yang pengangkut gabah dapat pekerjaan, operator mesin panen dapat pekerjaan, tukang giling. Pulang lah orang-orang yang merantau, terbangunlah yang di dalam negeri," imbuhnya. Ini menunjukkan potensi besar untuk menggerakkan ekonomi domestik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews