Dinas Kelautan dan Perikanan (KP) Bali kembali melanjutkan program budidaya ikan bandeng setelah berhasil melaksanakan panen perdana pada awal Maret lalu. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan sektor perikanan di wilayah Bali. Langkah strategis ini diharapkan dapat memberikan dampak positif signifikan bagi perekonomian masyarakat pesisir.
Kepala Dinas KP Bali, I Putu Sumardiana, menyatakan bahwa keberhasilan panen perdana menjadi pemicu untuk terus melanjutkan budidaya ikan bandeng. Ia menargetkan panen-panen berikutnya dapat terlaksana secara berkesinambungan, dengan perkiraan panen selanjutnya pada bulan September. Program ini dirancang sebagai langkah konkret pemerintah daerah dalam mendukung kesejahteraan nelayan.
Sebelumnya, nelayan di Desa Pejarakan, Kabupaten Buleleng, yang kaya akan ikan bandeng, hanya berfokus pada penjualan bibit atau nener. Kini, Dinas KP Bali memfasilitasi transformasi penting, dari sekadar pembenihan menuju pembesaran ikan bandeng di laut. Inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi hasil laut Bali.
Advertisement
Advertisement
Selama ini, bibit ikan bandeng atau nener dari Bali diekspor hingga ke Filipina, dengan setiap proses ekspor bisa mencapai satu juta ekor. Harga per bibit yang hanya Rp2, ditambah fluktuasi harga benih, menimbulkan tekanan ekonomi signifikan bagi nelayan pesisir. Kondisi ini mendorong perlunya transformasi model bisnis perikanan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dinas KP Bali mengambil peran aktif dalam memfasilitasi proses budidaya ikan bandeng. Langkah ini bertujuan agar nelayan tidak lagi hanya bergantung pada penjualan bibit. Kini, sekitar 30 persen dari total pembenihan sudah mulai dibesarkan langsung di laut, menandai pergeseran paradigma yang fundamental.
Sumardiana menjelaskan bahwa hasil panen perdana budidaya ikan bandeng di laut berhasil mencapai sekitar 3 ton. Ikan bandeng yang dibudidayakan selama empat bulan tersebut kemudian dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Hasil panen ini langsung dikirim ke pabrik untuk diolah menjadi produk bandeng duri cabut, menambah nilai jual secara signifikan.
Advertisement
"Sekarang kita sudah mulai tidak hanya ekspor bibit saja, tapi sudah membudidayakan itu, kita panen perdana budidaya ikan bandeng di laut menghasilkan sekitar 3 ton itu kita jaring," ujar Sumardiana. Meskipun hilirisasi ini belum mencapai 100 persen, Dinas KP Bali melihatnya sebagai langkah awal yang krusial dalam mengembangkan sektor perikanan.
Advertisement
Upaya hilirisasi ini bertujuan untuk menciptakan efek ganda bagi masyarakat lokal di Bali. Dengan mengolah bandeng menjadi produk bernilai tambah seperti bandeng duri cabut, nelayan dan pelaku usaha kecil dapat memperoleh pendapatan yang lebih baik. Produk olahan ini juga lebih praktis dan siap konsumsi, memenuhi kebutuhan pasar yang beragam.
"Jadi hilirisasi, dibeli bandengnya, di sana bandeng campur duri lebih enak bisa langsung dikonsumsi, jadi sekarang bukan bibit saja kita ekspor tapi bertahap, ada efek ganda bagi masyarakat lokal di sana," kata Sumardiana. Konsep ini secara bertahap mengubah rantai pasok, dari hulu ke hilir, memberikan keuntungan yang lebih merata.
Tantangan utama dalam implementasi Hilirisasi Ikan Bandeng Bali adalah mengubah pola pikir masyarakat. Nelayan yang terbiasa menjual bibit sejak kecil kini harus beradaptasi dengan proses budidaya dan pengolahan yang lebih kompleks. Edukasi dan pendampingan menjadi kunci dalam transisi ini.
Advertisement
Sumardiana menekankan bahwa perubahan ini harus dilakukan demi menjaga rantai perekonomian tetap berputar. Hilirisasi diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang signifikan. Selain itu, inisiatif ini juga berkontribusi pada upaya menjaga kedaulatan pangan dengan memanfaatkan secara optimal hasil laut Bali yang melimpah.
Advertisement
Ketika ditanya mengenai potensi hilirisasi pada jenis ikan lain, Sumardiana menjelaskan bahwa saat ini fokus utama masih pada bibit ikan bandeng. Hal ini dikarenakan ikan bandeng merupakan satu-satunya produk perikanan laut yang diekspor dalam bentuk bibit dari Bali. Prioritas diberikan pada komoditas yang memiliki potensi transformasi paling besar.
Konsentrasi pada ikan bandeng memungkinkan Dinas KP Bali untuk mengalokasikan sumber daya secara efisien dan mengembangkan model hilirisasi yang terbukti berhasil. Keberhasilan pada satu komoditas diharapkan dapat menjadi contoh dan motivasi untuk pengembangan hilirisasi pada jenis ikan lainnya di masa depan. Pendekatan bertahap ini dianggap lebih realistis dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews
Advertisement