Realisasi PPnBM turun, orang kaya diduga rem beli barang mewah
Merdeka.com - Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan melansir data yang menunjukkan ada penurunan penerimaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Pada 28 Februari 2013, pajak barang berharga mahal terkumpul Rp 1,928 triliun. Sedangkan, di periode yang sama tahun ini, baru masuk Rp 1,154 triliun. Penurunan secara year on year mencapai 40 persen.
Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany mengaku masih mempelajari mengapa realisasi PPnBM menurun drastis YoY untuk periode Februari. Dia menduga pada awal tahun, impor ataupun pembelian barang mewah belum terjadi.
"Ya mungkin barang mewahnya agak berkurang tapi ini kan tidak bisa dilihat bulanan. Biasanya itu kayak impor-impor barang mewah atau kemudian konsumsi itu kan ada periode-periode tertentu," ujarnya di Jakarta, Senin (24/3).
Fuad menegaskan, kesimpulan PPnBM anjlok atau tidak, akan terlihat jika data setoran tahun ini telah terkumpul seluruhnya.
Di sisi lain, Kepala Humas Ditjen Pajak Kismantoro Petrus menilai penurunan realisasi, pasti berhubungan dengan tingkat konsumsi masyarakat. PPnBM biasanya dikenakan untuk mobil mewah, tas bermerek, ataupun apartemen premium.
"Barangkali masih milih-milih atau belum ada yang menarik untuk dibeli," cetusnya.
Di luar itu, PPnBM untuk mobil mewah pekan lalu telah diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mobil mewah dengan kapasitas mesin di atas 2.500 cc, misalnya Lamborghini atau Ferrari, kini pajak penjualannya mencapai 125 persen.
Dulu, PPnBM yang dikenakan untuk mobil langsung diimpor (Completely Built Up/CBU) cuma 75 persen, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 41/2013. Kini, beleid ini resmi direvisi.
Fuad mengaku adanya beleid itu tidak otomatis menambah realisasi penerimaan pajak secara keseluruhan. Dia memperkirakan akan ada tambahan pajak, tapi tak terlalu besar.
"Itu kan lebih kepada aspek keadilan, untuk memenuhi aspek keadilan karena artinya orang-orang yang menggunakan mobil mewah supaya PPn-nya lebih gede. Tentu kalau dibilang potensinya, relatif terhadap total penerimaan pajak kita ya tidak terlalu besar," ungkapnya.
Ditjen Pajak mengklaim akan mengejar target setoran dalam APBN tahun ini tidak hanya mengandalkan kebijakan PPnBM. Melainkan juga lewat ekstensifikasi, agar jumlah wajib pajak bertambah.
"Supaya lebih banyak orang yang enggak ada yang lolos dari bayar pajak gitu," kata Fuad. (mdk/bim)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya