Gaya Hidup Serba Instan: Mengupas Tren Lazy Economy di Era Digital

Tren lazy economy memanfaatkan layanan serba instan untuk menghemat energi dan waktu.

Auria Setiarum Cahayani
Gaya Hidup Serba Instan: Mengupas Tren Lazy Economy di Era Digital
Ilustrasi belanja Online (iStockphoto)​

Membayar lebih demi menghemat energi dan waktu bukan lagi hal yang aneh. Di China, tren ini melahirkan istilah “lazy economy”. Hal ini merujuk pada tren penggunaan layanan instan berbasis teknologi dan aplikasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan upaya minimalis.

Tren yang populer di China ini menggambarkan pergeseran mendasar pada perilaku konsumen. Jika dulu menghemat uang adalah prioritas utama, kini menghemat energi dan waktu menjadi pertimbangan yang jauh lebih berharga. Konsumen kini tak ragu membayar biaya layanan ekstra asal tidak perlu mengorbankan waktu istirahat mereka yang terbatas.

Tren Tidak Muncul Begitu Saja

Meledaknya tren “lazy economy” di China berakar pada jam kerja yang panjang, urbanisasi yang pesat, dan kemajuan teknologi digital. Tinggal di tengah ritme kota yang serba cepat membuat warga urban menganggap waktu luang sebagai komoditas yang berharga.

Layanan siap pakai, mulai dari pengantaran makanan hingga perangkat smart living dipilih sebagai solusi cerdas, bukan tanda kemalasan. Konsep smart living semakin populer, sebagai gaya hidup yang mengandalkan teknologi demi efisiensi dan kanyamanan aktivitas harian.

Generasi muda di China, khususnya Generasi Z dan milenial, menjadi pendorong utama tren ini demi menjaga keseimbangan hidup (work-life balance). Di tengah beratnya tekanan sosial, mereka memanfaatkan kepraktisan teknologi untuk menyederhanakan rutinitas harian, menghemat energi, dan merebut kembali waktu pribadi yang terbatas.

Harga Mahal Sebuah Kepraktisan

Di balik kemudahan tren lazy economy, ada harga mahal yang harus dibayar oleh konsumen modern, baik segi finansial maupun gaya hidup. Tren ini memicu jebakan konsumerisme terselubung dan ketergantungan membentuk pola hidup sedentari (kurang bergerak).

Selain itu, tren praktis ini mengikis kemandirian dan interaksi sosial secara langsung. Rutinitas sederhana seperti memasak, membersihkan rumah, menyapa pedagang kini makin jarang dilakukan.

Pada akhirnya, kenyamanan yang dibeli lewat lazy economy tak hanya menukar uang, tetapi menyita keterampilan hidup dan interaksi sosial.

Rekomendasi