Suhu sejuk pendingin ruangan menyambut setiap langkah kaki yang memasuki gedung Central Tanah Abang (CTA), Jakarta Pusat. Di balik lorong-lorong pasar yang bersih dan tertata rapi, deretan baju gamis dan abaya berwarna-warni menggantung cantik, memikat mata para pengunjung yang sedang melintas. Suasana ramai lalu-lalang pembeli ini sejatinya menjadi angin segar yang telah lama dinantikan para pedagang setelah sempat terpuruk dihantam pandemi.
Namun, di balik sejuknya ruangan dan ramainya lorong pasar, ada cerita perjuangan yang harus dilalui para pedagang saban harinya. Salah satunya datang dari Rafi, seorang pedagang abaya dan gamis yang sudah dua tahun mengadu nasib di CTA, setelah sebelumnya sempat menjajakan pakaian anak di Blok B Tanah Abang.
Bagi Rafi, dinamika jualan di pasar konvensional ibarat roda yang terus berputar. Ada kalanya riuh, namun tak jarang pula sepi menyapa. Pada hari-hari biasa, menjual beberapa potong pakaian saja sudah menjadi perjuangan tersendiri.
"Kalau tiap hari kadang satu potong, dua potong, tiga potong," tutur Rafi dengan nada pasrah namun tetap optimistis.
Meski angka penjualan harian kerap naik-turun, Rafi memilih untuk tidak patah semangat. Baginya, sepi pembeli adalah bagian dari risiko manis-pahit yang harus ia telan sebagai seorang pedagang. Tokonya tetap berdiri kokoh dan buka setiap hari, menanti hadirnya rezeki yang datang melintas.
Napas lega biasanya baru benar-benar dihirup Rafi saat momen-momen emas tiba, khususnya ketika memasuki bulan suci Ramadan hingga menjelang Hari Raya Lebaran. Pada periode inilah, deretan abaya dan gamis miliknya panen pembeli. Bukan hanya beli eceran untuk kebutuhan pribadi, tak sedikit rombongan keluarga yang memborong dalam jumlah besar.
"Kalau untuk puasa biasanya di atas Rp5 juta ke atas setiap hari," ungkapnya mengenangkan momen panen omzet.
Pelanggan setia toko Rafi mayoritas adalah kalangan ibu-ibu yang berburu busana muslim untuk menghadiri acara pengajian, arisan, hingga helatan keluarga. Namun di luar momen hari besar, melemahnya daya beli masyarakat tetap menjadi tantangan nyata yang harus dilapangkan dada.
"Kalau bulan-bulan sepi kayak gini agak susah juga," pungkas Rafi sambil tersenyum tipis, terus bersiap melayani setiap pengunjung yang mampir ke lapaknya.
Advertisement
Mulai Ramai dalam Dua-Tiga Tahun Terakhir
Senada dengan Rafi, geliat kehidupan Central Tanah Abang (CTA) juga dirasakan betul oleh Andre, pedagang celana jeans yang melapak di area yang sama. Di mata Andre, denyut nadi perdagangan di Tanah Abang memang perlahan mulai berdetak kencang kembali dalam dua hingga tiga tahun belakangan.
"Baru dua tahun, tiga tahun ini mulai ramai," tutur Andre.
Ia tak menampik bahwa riuhnya pasar hari ini belum sepenuhnya menyamai masa-masa kejayaan sebelum pandemi merenggut segalanya. Namun, jika dibandingkan dengan masa-masa kelam tepat setelah Covid-19 melanda, jumlah pengunjung yang datang saat ini sudah jauh lebih membesarkan hati.
Bagi Andre, kehadiran calon pembeli di lorong pasar adalah penentu utama nasib kantongnya hari itu. Fluktuasi omzet yang ia kantongi terasa begitu kontras tergantung dari ramai atau sepinya pengunjung yang mampir.
Saat arus pembeli melimpah, Andre sanggup mengantongi omzet hingga belasan juta rupiah hanya dalam sehari. Namun sebaliknya, tatkala suasana pasar mendadak lengang, pendapatannya bisa langsung merosot drastis.
"Kalau ramai bisa tembus Rp15 juta sehari. Kalau sepi, dua, kayak tiga jutaan," ungkapnya.
Faktor luar yang tak menentu pun kerap menjadi momok bagi pedagang lapak fisik seperti Andre. Cuaca buruk hingga situasi keamanan di luar gedung pasar bisa langsung berdampak instan pada sepinya pembeli.
"Kayak musim hujan atau saat ada demonstrasi, misalnya, dapat membuat pengunjung mengurangi aktivitas ke Tanah Abang," pungkas Andre.
Advertisement
Tahun Ini Lebih Ramai
Harapan serupa juga terpancar dari Elsa, seorang pedagang baju koko yang menggantungkan asa di Central Tanah Abang (CTA). Di matanya, helaan napas pasar tahun ini terasa jauh lebih lega dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Meski hari kerja biasa (weekday) masih kerap diwarnai pasang surut pembeli, Elsa selalu menaruh harapan besar pada akhir pekan. Lorong-lorong pasar biasanya mendadak riuh oleh pengunjung yang berburu pakaian.
"Kalau hari biasa kadang sepi, kadang ramai. Paling kalau weekend, ramai," tuturnya.
Sama seperti lini busana muslim lainnya, bisnis baju koko yang ditekuni Elsa sangat bergantung pada riaknya musim. Ramadan dan Lebaran tetap menjadi "tambang emas" yang paling dinanti. Daya pikat lapaknya bahkan sanggup menyedot pelanggan luar daerah hingga mancanegara.
"Pembeli nggak cuma dari Jakarta. Pelanggan dari sejumlah daerah di Indonesia sampai Malaysia juga pernah belanja di sini, terutama pas mau Ramadan," kisah Elsa.
Perbedaan omzet antara hari biasa dan musim panen Lebaran terasa bagai bumi dan langit. Di hari biasa yang sepi, menjual satu atau dua potong baju koko saja sudah patut disyukuri. Namun saat Ramadan tiba, lonjakan permintaan bisa meledak hingga ratusan potong saban harinya.
"Kalau puasa itu bisa sampai 200 pcs per hari," ungkapnya dengan binar mata bahagia.
Elsa optimistis wajah Tanah Abang kini perlahan mulai pulih seperti sedia kala. "Kalau tahun kemarin sepi, tahun ini terasa lebih ramai lagi," pungkasnya.
Geliat manis yang makin terasa di Central Tanah Abang menjadi bukti sahih bahwa nadi ekonomi rakyat di pasar tekstil legendaris ini mulai berdenyut kencang kembali. Meski angka penjualan masih sangat bergantung pada faktor momentum, cuaca, hingga naik-turunnya daya beli masyarakat, para pedagang sepakat bahwa ada secercah harapan baru yang membesar dibanding tahun-tahun kelam pasca-pandemi.
Bagi Rafi, Andre, Elsa, dan ribuan pedagang lainnya, riuhnya langkah kaki pengunjung yang memadati lorong pasar bukan sekadar pemandangan biasa. Itu adalah harapan agar roda rezeki terus berputar stabil sepanjang tahun—tidak hanya menanti mukjizat di bulan Ramadan.
Perlahan tapi pasti, Tanah Abang sedang bersolek menyapa masa kejayaannya kembali: lorong-lorong yang kembali padat, transaksi yang bersahut-sahutan, dan ukiran senyum yang kembali mengembang di wajah para pedagang.