Rumus keuangan masa lalu terasa begitu sederhana, yaitu bekerja keras, menabung, lalu bertahap membeli rumah, menyiapkan dana pensiun, dan menikmati hidup yang layak.
Namun bagi generasi muda saat ini, mimpi itu terasa semakin sulit digapai akibat tekanan ekonomi. Kondisi inilah yang melahirkan sebuah fenomena psikologis dan perilaku keuangan baru bernama doom spending.
Para pakar keuangan dan psikologi mengartikan doom spending sebagai kebiasaan membelanjakan uang untuk barang mewah, hiburan, atau hal-hal tidak esensial demi meredakan rasa cemas, ketidakpastian, dan rasa pesimistis terhadap masa depan.
Berbeda dari sekadar belanja impulsif biasa, doom spending bukan dipicu oleh lemahnya kontrol diri atau godaan diskon semata. Fenomena ini berakar dari rasa putus asa. Saat harga rumah melambung tinggi, masa pensiun masih terasa sangat jauh, dan guncangan ekonomi terus terjadi, memanjakan diri hari ini dianggap jauh lebih masuk akal daripada berkorban demi masa depan yang tidak pasti.
Mengutip laman RTE.ie, Rabu (3/9), psikolog mode, Dr. Dion Terrelonge menegaskan bahwa doom spending merupakan cerminan kondisi psikologis. Fenomena ini memperlihatkan adanya jurang pemisah antara target finansial jangka panjang dan realitas pahit yang dihadapi masyarakat, terutama anak muda yang masih harus tinggal bersama orang tua.
Advertisement
Faktor Pendorong Fenomena Doom Spending
Ilmuwan perilaku Wendy De La Rosa menilai ada beberapa faktor utama pendorong fenomena ini. Pertama, rasa pesimistis akibat lonjakan harga rumah, inflasi, serta ketidakpastian kerja yang membuat target finansial masa lalu terasa mustahil digapai hari ini.
Kedua, pencarian rasa kendali. Membelanjakan uang untuk liburan atau barang favorit memberikan sensasi memegang kendali di tengah dunia yang makin sulit diprediksi. Faktor terakhir adalah tekanan media sosial seperti TikTok dan Instagram yang terus memamerkan gaya hidup mewah, hingga akhirnya memicu pola pikir "nikmati saja hari ini".
Doom spending tidak selalu berwujud barang supermewah seperti mobil atau tas desainer. Pada praktiknya, kebiasaan ini sering hadir lewat pengeluaran harian, seperti rutin liburan akhir pekan, bergonta-ganti gadget tanpa kebutuhan mendesak, hingga sering makan di restoran mahal.
Di Irlandia, misalnya, sektor traveling menjadi bentuk doom spending paling populer. Para peneliti mencatat bahwa berlibur kini menjadi cara baru untuk meraih rasa pencapaian dan identitas diri saat kepemilikan rumah sudah terasa tak terjangkau.
Advertisement
Berisiko Menumpuk Utang
Menariknya, sebagian besar pelaku doom spending sebenarnya paham betul atas apa yang mereka lakukan. Tingginya literasi keuangan tidak serta-merta menghentikan kebiasaan ini, sebab belanja sudah terlanjur dijadikan alat untuk meredakan stres dan kekecewaan.
Menikmati hasil keringat sendiri melalui hobi atau liburan memang bisa meningkatkan kesejahteraan emosional. Masalah baru muncul ketika belanja menjadi satu-satunya pelarian saat menghadapi rasa cemas.
Dalam jangka panjang, doom spending berisiko menumpuk utang, menggerus tabungan, menunda target finansial penting, hingga memicu siklus rasa bersalah yang terus berulang.
Pada akhirnya, fenomena doom spending membongkar realitas sosial yang lebih luas. Bagi banyak anak muda, menghabiskan uang saat ini bukanlah bentuk penolakan terhadap tanggung jawab finansial, melainkan upaya manusiawi untuk menemukan sedikit kebahagiaan dan kendali diri di tengah dunia yang serba tidak pasti.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani