Indonesia tak hanya menyimpan kekayaan panas bumi di dalam perut bumi, tetapi juga mulai mengolahnya secara maksimal menjadi listrik bersih demi memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara PLN Indonesia Power dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terkait kesepakatan pembelian tenaga listrik dari dua proyek panas bumi berkapasitas total 45 MW.
Proyek strategis ini mencakup pembangunan Ulubelu Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 30 MW di Lampung serta Lahendong Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara. Dalam rencana kerja sama strategis ini, total potensi kapasitas pengembangan bahkan diproyeksikan mampu menembus hingga 230 MW.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa potensi geothermal nasional yang melimpah harus segera diakselerasi lewat kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha agar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang luar biasa besar. Namun, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka. Energinya harus kita hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam acara dikutip Rabu (26/8).
Bahlil menambahkan bahwa kunci utama percepatan proyek ini terletak pada sinergi antar-pemangku kepentingan.
"Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga dunia usaha. Kuncinya adalah kolaborasi. Ketika regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, saya yakin kekayaan panas bumi Indonesia dapat kita optimalkan menjadi energi bersih yang andal dan menjadi kekuatan Indonesia di masa depan," tambahnya.
Pada pembukaan acara yang digelar 19 Agustus 2026 tersebut, Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi turut menyoroti momentum 100 tahun perjalanan panas bumi di Indonesia yang bermula dari pengeboran di Kamojang sejak 1926. Menurutnya, geothermal memiliki keunggulan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam.
"Kamojang mengajarkan kita bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi warisan energi yang terus hidup. Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri. Dari Kamojang, kita melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi.
Advertisement
Teknologi yang Diusung
Kerja sama pengembangan PLTP Lahendong dan Ulubelu ini mengusung teknologi bottoming. Teknologi tersebut memanfaatkan kembali sisa panas dari fluida (brine) yang belum terpakai untuk menghasilkan daya listrik baru. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan kapasitas pasokan listrik bersih tanpa perlu membuka lapangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menegaskan komitmen pihaknya dalam mengoptimalkan potensi tersebut bagi sistem ketahanan energi nasional.
"Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional," ujar Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta.
Ia menambahkan bahwa akselerasi transisi energi hijau membutuhkan dukungan penuh dari seluruh pihak terkait.
"Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan," pungkasnya.